Wednesday, October 21, 2009

Taksi Stop


Satu Shelter Tiap 200 Meter

Kemacetan di kawasan Bukit Damansara, pinggiran Kota Kuala Lumpur, baru saja dimulai. Deretan panjang kendaraan roda empat itu terjadi sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Saya dan beberapa kawan dari Indonesia mulai cemas. Kami akan mengurungkan niat pergi ke Bangsar Village, sebuah kawasan pertokoan dan restoran di Kuala Lumpur, jika kemacetan menjadi-jadi.

“Jangan-jangan sama seperti di Jakarta atau Bandung, kalau macet bisa berjam-jam,” kata Indah Dian Novita (25), asal Jakarta.

Kami menunggu beberapa saat, berharap kemacetan segera mencair. Ahhh, lega. Ternyata, kemacetan hanya terjadi sesaat. Tak lebih dari 30 menit.

Kami mulai mencari transpotrasi umum yang melaju ke Bangsar Village. Gaz Gazali (31), pria asal Malaysia bagian Serawak menyarankan kami untuk naik taksi. Di kawasan Bukit Damansara, taksi menjadi transportasi umum utama. Sebenarnya ada pilihan lain, Rapid KL (semacam bus kota atau Trans Metro Bandung di Kota Bandung). Tapi di kawasan tempat kami menginap, Rapid KL tidak banyak. Alasannya, mungkin karena hampir semua keluarga di sini memiliki mobil sendiri.

Kami memutuskan menggunakan taksi. Aneh. Semua taksi melaju kencang. Mereka tak berhenti meskipun kami berulang-ulang mengibaskan telapak tangan. Gaz—sapaan akrab Gazali, mulai mentertawakan cara kami menghentikan taksi.

”Taksi tak akan berhenti, kecuali di taksi stop (halte/shelter),” kata Gaz.

Saya dan Dian pun tertawa. Kami tidak sadar, bumi yang kami pijak bukanlah Bandung. Bukan pula Jakarta. Gaz mengajak kami berjalan menyusuri tepian Jalan Semantan. Tidak jauh. Mungkin sekitar 50 meter dari tempat semula, kami menemukan sebuah shelter taksi. Tempat yang amat jarang di temukan di Kota Bandung.

Orang Malaysia menyebutnya Teksi Stop (pemberhentian taksi). Tempatnya luas. Panjangnya kira-kira 6 meter. Di sana ada tempat duduk berupa pipa besi dilapisi cat anti karat yang ditanam ke tanah. Di depannya, ada pipa besi berukuran serupa sebagai pengaman atau tempat menyandarakan tangan saat seseorang berdiri menunggu kedatangan taksi. Penunggu taksi juga tak akan kehujanan jika musim hujan mulai tiba. Atap dari plat cukup nyaman untuk berteduh.

Meskipun ada shelter taksi, kendaraan yang melaju di depannya tidak ada terganggu. Apalagi sampai menimbulkan kemacetan besar seperti yang sering terlihat di Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Dago, Jalan Merdeka dan sejumlah jalan lain di Kota Bandung. Shelter taksi di sini didisain berbeda dengan shelter-shelter di Kota Bandung. Jarak antara shelter dan badan diberi jarak beberapa meter untuk parkir taksi. Dengan demikian ketika taksi berhenti posisinya tidak di badan jalan, melainkan berada di area khusus yang diberi tanda ”Taksi Stop.”

Selain tong sampah dan telepon koin, saya tidak menemukan perabot lain yang menjadikan shelter nampak kumuh. Kalau di Bandung, tempat sebagus itu pasti digunakan untuk berdagang, kalau bukan koran mungkin vouher handphone. Atau, makanan ringan. Kalau ingin bukti, cobalah tengok beberapa shelter angkutan kota di dekat terminal bus Leuwipanjang atau di Jalan Dago.

Dua buah taksi menghampiri kami. Beberapa saat kemudian taksi melaju dan sampailah di Bangsar Village. Di sepanjang jalan, saya menemukan banyak shelter taksi dan Rapid KL. Saya penasaran, tiap berapa meter masyarakat Malaysia dapat menemukan taksi atau bus stop.

”Mereka sangat mudah menemukannya, kira-kira tiap 200 meter ada satu taksi atau bus stop, bahkan ada yang sangat dekat,” jawab Gaz.

Kemudahaan yang disediakan oleh Dewan Bandaraya Kula Lumpur (pemerintah kota) dengan menyediakan fasilitas pemberhentian transportasi umum menjadikan mayarakat tertib. Mereka tidak menunggu taksi atau bus di sembarang jalan. Mereka juga tidak membuang sampah sembarangan karena di sekitar shelter dilengkapi dengan tong sampah. Prilaku tertib juga mulai dilakukan oleh para sopir taksi. Mereka akan membiarkan orang-orang yang menunggu taksi di luar pemberhentian taksi.
Yang juga menarik, semua fasilitas itu terpelihara dengan baik.

”Pemerintah sudah memberikan kemudahan, kalau dirusak akan menyulitkan mereka sendiri,” tambah Gaz.

Di kesempatan lain, saya bersama beberapa kawan dari Indonesia mecoba menaiki transportasi umum Rapid KL. Kami melakukan itu sepulang kongkow di kawasan Cina Town di Kuala Lumpur.

Banyak hal yang menarik. Selain tampilan bus-nya bagus, tempat duduknya pun empuk. Semua Rapid KL dilengkapi dengan AC. Penumpang tidak perlu berteriak ”kiri bang” ketika sudah mendekati tujuan. Penumpang cukup memencet tombol yang tersedia di beberapa sudut di dalam bus. Sopir akan mendengar pekikan suara dan menghentikan laju Rapil KL di sebuah pemberhentian bus.

Sepanjang jalan, saya tidak melihat sopir bus menghentikan laju bus-nya di sembarang tempat untuk mengangkut penumpang. Demikian sebaliknya, tak ada penumpang yang meminta berhenti di sembarang tempat. Bagaimana dengan bus kota atau TMB di Kota Bandung? Silahkan anda lihat sendiri. Ketidaktertiban berlalu lintas inilah yang mungkin menjadi penyokong terjadinya kemacetan. Apalagi ukuran bus kota atau TMB jauh lebih besar dibandingkan dengan kendaraan lain.

Jumaahtul Abdul Gani (31), seorang kawan tinggal di Selangor, sekitar 20 kilometer dari KL, menambahkan banyak informasi tentang transportasi umum. Katanya, ada beberapa jenis transportasi umum, taksi, Rapid KL dan monorel. Ketiganya digunakan sesuai dengan kepentingan masyarakat. Jika ingin murah dan tak diburu pekerjaan, masyarakat lebih suka menggunakan bus.

Seperti yang dikatakan Gaz, di Kuala Lumpur banyak ditemukan pemberhentian bus dan taksi. Terutama berada di tempat-tempat ramai seperti mal, perkantoran dan kawasan perumahan rakyat.

Dari sekian banyak sopir, kata Jum, ada di antaranya yang ugal-ugalan, menyetir dengan kecepatan tinggi. Namun, pada umumnya mereka tetap tidak melayani penumpang di yang menunggu di sembarang temapat.

”Kerajaan berusaha keras melakukan kampanye agar masyarakat mengendarai mobil lebih hati-hati, untuk menghindai kecelakaan. Setiap hari banyak polisi di jalan. Di beberapa tempat ada menara yang digunakan polisi untuk mengamati jalan. Pelanggar lalu lintas akan diambil gamar, lalu dikirim ke police traffic untuk didenda,” katanya.

Untuk masalah kemacetan, pemerintah kota telah berupaya melakukan kampanye untuk berkongsi mobil. Namun, kampanye itu tidak mendapat respon baik. Bisa dikatakan, setiap orang membawa mobil sendiri untuk melakukan aktivitas bekerja.

Pemerintah tidak berhenti sampai di sana. Cara lain yang dilakukan untuk mengatasi kemacetan adalah memperbaiki fasilitas transportasi publik agar menjadi lebih efisien dan menarik perhatian masyarakat untuk memakai transportasi massa. Semisal dengan menambahkan jaringan kereta api dalam kota menuju ke wilayah-wilayah pinggiran yang sulit dijangkau dengan transportasi umum. (kisdiantoro)

Thursday, October 8, 2009

Hantu Dilema

SELASA (6/11/2009), hari pertama kami, para peserta International Journalism Fellowship (IFJ) 2009 yang diselenggarakan oleh Malaysian Press Institute (MPI), mulai menggali ilmu jurnalistik dari orang-orang yang dalam biografinya berderet pengalaman menakjubkan dalam berbagai peliputan dan pelatihan jurnalistik level internasional.

Tentu kami sangat gembira. Harapan kami, pengetahuan jurnalistik kami semakin luas dan terasah. Pelajaran dari mereka akan sangat berguna bagi profesi kami ketika rutinitas meliput kembali memanggil.

Datuk Ahmad A Talib, Direktur Eksekutif Berita Media Prima, kelompok New Strith Time Press (NSTP), memuali kelas dengan banyak pertanyaan mengapa para peserta International Journalism Fellowship (IFJ) 2009 yang diselenggarakan oleh Malaysian Press Institute (MPI) memilih profesi wartawan. Dia tidak yakin bahwa semua calon wartawan ketika diwawancara untuk pertama kali oleh sebuah perusahaan penerbitan memberikan alasan karena mencintai dunia tulis menulis. Jujur saya juga sependapat. Saya memilih profesi ini, pada awalnya karena alasan kebutuhan. Saya butuh pekerjaan dan butuh penghasilan. Saya butuh makan untuk mempertahankan hidup. Tan Su Lin, pewarta Radio Bernama 24 asal Malaysia pun menjawab dengan jujur. Dia sebenarnya sama sekali tidak memiliki latar belakang seorang jurnalis, karena dia adalah lulusan Jurusan Fisika di sebuah kampus di Malaysia. Tapi, untungnya dia suka dengan tantangan dan petualangan. Profesinya pun bisa dijalani dengan baik.


Rupanya, A Talib hendak menghubungan pertanyaan tersebut dengan kondisi dilema yang akan muncul ketika seorang wartawan menjalani profesinya. Kondisi dilema akan menghadang pada setiap wartawan yang memiliki kredibelitas dan integritas yang baik. Tentu tidak dengan wartawan yang hanya menjalankan perintah, tanpa mencoba membuat analisis kecil terhadap pemberitaan yang dibuat. Meskipun hanya sekali. Kesimpulan yang saya tangkap dari kalimat dan gerak tangannya, A Talib, menilai wartawan dengan tipe tersebut hanya akan menjadi alat kepentingan pihak perusahaan dan pada suatu saat nasibnya bisa mejadi tidak jelas.

“Tiga atau empat tahun, pergi kau!”


Kondisi dilema yang akan menghampiri seorang wartawan bisa jadi berupa permasalahan yang menyangkut dirinya sendiri. Semisal masalah pendapatan yang tidak sesuai dengan beban pekerjaan atau masalah pilihan pekerjaan lain. Apakah seorang wartawan merasa yakin bahwa profesi meliput, mewawancarai nara sumber, memotret lalau merekontruksinya dalam sebuah naskah berita untuk diterbitkan adalah sebuah profesi yang akan dijalani sebagai sandaran hidup? Pertanyaan seperti ini sering berkecamuk dalam diri seorang wartawan.

Namun, kata A Talib, kondisi tersebut adalah wajar. Lebih jauh dari itu, seorang wartawan akan sering dihadapkan pada banyak kondisi dilemma ketika melakukan peliputan di lapangan. Idealisme dan kemampuan analisisnya akan diuji dengan berbagai gempuran kepentingan.


Saya sangat sependapat dengan dia. Sebelum menuliskan sebuah berita, di belakang seorang wartawan ada berdiri banyak pandangan yang kekuataanya cukup besar dan bepengaruh terhadap tulisan seorang wartawan. Pertama, kekuatan pemilik perusahaan. Seorang wartawan harus menyadari bahwa dirinya bekerja pada sebuah perusahaan, apakah perusahaan penerbitan atau perusahaan penyiaran. Dengan demikian dia juga seorang pegawai yang tunduk dengan aturan perusahaan. Artinya, pemilih perusahaan memiliki kuasa atau kekuatan untuk melakukan campur tangan (intervensi) terhadap pekerjaan seorang wartawan. Semisal ketika sebuah pemberitaan yang ditulis seorang wartawan berkaitan dengan kepentingan para kolega pimpinan perusahaan, jika berita tersebut berupa keburukan, maka ada kemungkinan pimpinan perusahaan akan meminta untuk tidak menerbitkan. Jika hal tersebut terjadi, bagaimana anda menghindarkan intervensi pihak perusahaan agar tulisan anda bisa mengalir dan objektif? Ini adalah kondisi dilema bagi wartawan.


Baiklah kawan, kita bahas lebih jauh lagi. Selain bos anda, di belakang anda, masih ada bagian-bagian lain yang memiliki kepentingan besar untuk menopang keberlangsungan perusahaan anda. Misalanya, Departemen Iklan dan Sirkulasi. Dua departemen ini memiliki peran signifikan untuk menghidupi perusahaan yang pada akhirnya berdampak pada tingkat kesejahteraan wartawan.

”Anda akan merasa dilema ketika departemen lain meminta bantuan anda untuk meliput atau meminya untuk tidak menuliskan sesuatu,” katanya.


Ingat! Sebelum kembali ke kantor untuk menuliskan semua cerita yang anda dapat di lapangan, anda telah bertemu dengan begitu banyak orang. Sebut saja jumlah orang yang menggantungkan nasibnya terhadap pemberitaan yang anda tulis sekitar 23.000 jiwa. (Contoh, berita tentang penggusuran jalan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rumah-rumah rakyat tanpa ada kompensasi yang sepadan). Ini juga termasuk kondisi dilema yang akan menghantui seorang wartawan.


Pertanyaannya, jika seorang wartawan dihadapkan pada tiga konsisi dilema itu, seharusnya seorang wartawan berdiri atau memihak pada pilihan yang mana? Anda harus berdiri di belakang siapa? Di belakang kepentingan bos, Departemen Iklan dan Sirkulasi atau 23.000 jiwa yang berteriak meminta pertolongan anda? Etika pribadi atau etika moral akan menjawab, anda harus berdiri dibalik kepentingan masyarakat.


Tentu dalam praktiknya tidak semua kondisi dilema dapat diselesaikan dengan mulus. Maka, seorang wartawan harus memiliki kemampuan untuk menguasai dirinya. Akan jauh lebih baik jika dia juga memiliki kesadaran beragama yang baik. Alasanya saya kira cukup baik. Seorang wartawan memiliki tugas yang berat untuk mengubah kehidupan masyarakat dan mengontrol kebijakan pemerintah agar berjalan di dalam rel-nya.

“Kalau anda tidak bisa mengubah diri anda, apa anda bisa mengubah masyarakat. Jika tidak bisa melakukan, cobalah bepikir ulang untuk melakukan tugas besar mengubah kehidupan masyarakat,” tutur A Talib. ”Jangan menjadi redaktur (editor) kalau anda tidak memiliki semangat yang besar, atau tidak memiliki mental yang baik. Departemen redaksi tidak boleh melakukan kesalahan ataupun berbuat dosa.”


Di akhir diskusi, saya tidak menemukan solusi yang gamblang ketika seorang wartawan dihadapkan pada kondisi dilema. A Talib hanya memberikan gambaran bahwa dalam sebuah usaha pemberitan harus menjaga keseimbangan antara comercial content dengan intelectual content. Maka, seorang wartawan bisa menetukan sikap sendiri kapan dia harus berdiri di balik kepentingan perusahaan atau harus meninggalkannya karena ada banyak orang yang membutuhkan pertolongannya.


Tuesday, 6, 2009

Internation Fellowship Journalism 2009

Malaysian Press Institute

Friday, August 15, 2008

Si Ayu

"Om Toro, sepedanya mana?"
"Di tinggal di kantor," kataku.

Ayu (7), cucu ibu kosku mengira aku akan pulang dari kantor dengan menaiki sepede ontel. Mungkin karena beberapa jam sebelumnya aku pulang dengan menaiki sepeda ontel. Karena saat itu ia juga sedang bermain-main dengan sepeda mininya, kami pun beradu cepat. Cukup hebat. Ia melaju sangat kencang. Okay, aku kalah cepat dengannya.

Sepertinya ia lagi sangat suka dengan sepeda ontelnya. Bisa jadi karena baru dua hari ini ia berhasil menaruh pantatnya di atas sadel (tempat duduk). Tentu setelah melewati masa usaha yang tidak mudah. Mengatur keseimbangan, mengusir rasa takut sampai melupakan rasa sakit saat terjatuh."Hore aku sudah bisa naik sepeda."

Aku kenal anak ini sejak anak ini baru sekolah Taman Kanak-kanak. Dia pintar dan menyenangkan. Anak seusia itu, ia sudah hafal lagu-lagu orang dewasa. Berani berekspresi. Ia juga pintar berimajinasi lalu menvisualkannya. Berbincang layaknya orang dewasa. Keliancahannya semakin aku ketahui saat ia bersama orangtuanya pindah rumah, bergabung dengan rumah neneknya. Tempatnya masih satu komplek dengan tempat kos-ku.

Dasar anak-anak, kadang sifat menyebalkannya juga muncul. Berkali-kali ia usil dengan melempar sandal kotor ke kamarku. Mendobrak pintu saat aku tidur. Mencubit kulit hingga memerah. Berteriak sampai memekakan telinga. Sebagai orang dewasa, aku tak bisa berbuat banyak keculai mengatakan, "Nggak boleh gitu deck!." Sering berbuat menyebalkan, akhirnya aku tak tahan juga untuk tegas. Saat itu, ia mendobrak pintu kamar, padahal aku sedang tak enak badan. Aku berbegas bangun, secepat kilat aku melangkah menuju rumahnya dengan berpura-pura marah.

"Aku bilangin ke mama nech. Kamu nakal."
"Jangaaaaannnnnn....jangaaaaannnnn..."
Aku kembali ke kamar. Dia kembali menmghampiriku dengan mengulurkan tangan kanan.
"Ya udah, aku minta maaf," katanya.
"Janji ya jangan ulangi lagi."
"Janji."

Dasar anak-anak, sikap menjengkelkan kadang-kadang tetap saja masih ada. Lagi-lagi aku harus bersabar. Tapi, kalau ia lagi baik, kebaikannya juga sangat menyenangkan. Pas lagi haus, kadang layaknya orang dewasa ia mengambilkan air dingin dari balik lemari es. Atau, kadang ia mengambilkan sebagian makanan yang sedang dimasak neneknya.

Aku sangat yakin, jika ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang baik, ia akan menjadi gadis yang cantik, pintar dan memiliki prilaku yang beradab. Aku menjadi khawatir ia akan menjadi manusia dewasa yang tidak punya sopan-santun. Apalagi tahu agama. Khawatir karena ia tumbuh dalam lingkungan yang sempit dan jauh dari sentuhan pendidikan agama. Hampir setiap hari ia bermain sendiri. Maklumlah, hidup di tengah kota. Kebanyakan orang tidak akan berani mengambil resiko berlebih. Maka, tempat berinteraksi sosialnya pun hanya sebatas gerbang rumah. Itu pula, mungkin yang menyebabkan ia sering menggodaku dengan kelakukan menyebalkan. Atau sebalinya, memvisualkan imajinasi berbuat baik seperti tontonan yang ia liat dalam layar kaca.Aku khawatir ia tidak mengenal nilai-nilai manusia sosial, karena khidupan sosialnya tak terpenuhi.

Dan yang paling mengkhawatirkan, ia sering bergaul dengan orang-orang setua ayah dan ibunya. Bila mereka kelompok orang dengan prilaku baik, tidak lah masalah. Sayangnya, mereka adalah para orang dewasa dengan kebiasaan merokok, kongkow, lalu mabuk. Menjadi aneh karena ayah dan ibunya bergabung dalam situwasi itu. Sementara Ayu masih bermain-main di sana.

"Mabuk di hadapan anaknya."

Itu aku ketahui setelah Ayu menyapaku dan memintaku beramin sepeda."Om main sepeda lagi yuk! Eh...lagi pada mabuk, di sana ada botol," kata dia.Aku yakin yang dikatakan bocah itu tidak salah. Alasanku karena apa yang ia visualkan berdasrkan apa yang ia liat. Pernah suatu hari ia menaiki kursi dengan kaki-kaki yang tinggi layaknya kursi di bar. Ia kemudian mendeskripsikan tempat dan kebiasaan orang-orang di bar. Pas aku tanya, dari mana pengetahuan itu ia dapat. "Kan Ayu sering liat, di film-film."Wah...anak seumur dia sudah tahu situwasi di dalam tempat-tempat untuk mabuk.

Anak adalah anugerah Allah SWT, tempat kita meneruskan cita-cita dan garis keturunan. Anak juga merupakan amanah, titipan harta yang paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar menjadi penyejuk hati. Dalam persoalan ini, kita harus meneladani sikap Nabi Zakaria AS dan Nabi Ibrahim AS. Kedua Nabi ini senantiasa berdoa kepada Allah Maha Pencipta. “Ya Rabbana, anugerahkanlah kepada kami, pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami. Jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74).

Ayu, semoga kelak engkau menjadi orang dewasa yang baik, tidak seperti yang aku khawatirkan. Amin...

Tuesday, July 29, 2008

Pelajaran untuk Tetap Optimistis

BEBERAPA hari ini sungguh aku dalam kegelisahan. Gelisah menjalani kehidupan tanpa ada pergeseran kebaikan, seperti kebaikan yang ditunjukan oleh Tuhan sesembahanku, Allah. Subuhku masih sering telat. Masih sering mendzolimi perut, karena ingin menghemat dan akhinya cacing-caing dalam perutku sakit. Masih suka berprasangka buruk terhadap sesama. Masih suka tak peduli dengan laparnya orang lain. Masih mudah mengumpat. Masih sering terpaksa saat menolong. Masih sulit bersyukur. Masih mudah melupakan nikmat Allah. Masih suka lupa dengan kebaikan orangtua, guru dan teman-teman. Dan aku masih saja begitu.

Dan aku sungguh dalam kegelisaan dalam memikirkan harta. Masih saja bingung memikirkan karir. Dan aku maih gelisah memikirkan jodohku. Aku pun masih sulit menghilangkan kebergantunganku pada manusia. Dan aku masuk dalam kondisi psimistis atas kehidupanku mendatang. Sungguh sebuah kebodohan. Padahal aku tahu, Allah lah tempat bergantung segala sesuatu.

Masih dalam kegelisahan, hari ini aku berbincang dengan pak Athian Ali M Da'i. Dia seorang ulama yang tegas dan bijaksana. Aku berbincang bagaiaman Rasulluah Muhammad SAW, melakukan Isra dan Mi'raj. Sebuah peristiwa pejalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Masjidil Aqsha dan naik ke langit dan kembali ke Mekkah pada saat fajar bersama Malaikat Jibril. Dalam peristiwa ini Nabi Muhammad SAW menerima wahyu tentang ibadah Shalat. Sebuah kisah yang tidak bisa diterima oleh akal manusia terlebih mereka yang tak beriman. Bagi mereka yang beriman, peristiwa itu merupakan tanda-tanda kekuasan Allah.

Kuasa Allah nyata tak terbatas. Tinggal mengucap "kun" saja, maka terjadilah apa yang menjadi ketentuan-Nya. Apapun yang tak mungkin dalam pandangan manusia, mungkin dan mudah dalam pandangan Allah SWT. Sebagaimana begitu mudahnya Dia memperjalankan Rasulullah SAW dari Makkah ke Baitul Maqdis, dari bumi yang fana ini menuju hadirat-Nya : Sidratul Muntaha. Singkat saja waktu perjalanan yang ditempuh oleh Baginda Nabi. Cuma satu malam.Aku diingatkan Pak Athian melalui peristiwa Isra Mi'raj, bahwa ada pelajaran agar manusia tetap optimistis. Kuasa Allah untuk mengubah segala kegelisaan, menghapus masalah yang dirasa manusia mustahil. Dan manusia hendaknya tidak putus asa, karena putus asa dekat dengan kekafiran.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Isra 17:1)

Sungguh Allah maha berkuasa. Tapi, apakah aku ini pantas medapat perhatian Allah dan Dia mau menunjukan kuasanya untuk menghapus segala kegelisahanku. Aku malu. Dan aku masih saja begini. Jauh dari perintah Allah. Saat aku masih berseragam abu-abu, dulu. Pikiranku selalu saja mengatakan, "serasa tidak mungkin aku yang terlahir dari kelurga miskin bisa menyelesaikan kuliah. Serasa tidak mungkin aku yang akan menjadi seorang pekerja bisa memeiliki sepeda motor. Serasa tidak mungkin, aku yang terlahir di kampung bisa sampai di Bandung. Serasa tidak mungkin, aku bisa berbincang dengan orang-orang hebat, orang-orang yang mengabdikan dirinya pada kemuliaan Allah."

Tapi semua itu sudah aku dapatkan. Sungguh kekusaan Allah menjadikan sesuatu yang menurut akal mausia tidak mungkin menjadi mungkin. Begitu banyak nikmat dan pertolongan Allah, tapi aku masih saja belum bisa bersyukur. Begitu banyak rizki yang Allah limpahkan, belum saja aku bersedekah. Begitu banyak kemudahan yang Allah berikan, belum saja aku berbuat baik kepada orang lain.Sungguh aku sudah diperlihatkan dengan begitu banyak kemuliaan dan kekuasaan Allah. Tapi, aku masih saja bingung dan khawatir. Gelisah. Merasa tidak yakin. Lemah. Sungguh Allah tempat bergantung segala sesuatu. Tapi, aku masih saja kebingungan kepada siapa aku harus mengaduh. Aku masih saja bergantung kepada manusia, padahal ia tak berdaya tanpa kuasa Allah. Maafkan aku ya Allah, Tuhan penguasa alam jagad raya.

Sesungguhnya tidak ada yang mustahil jika Engkau menghendakinya. Dan aku mestinya optimistis dengan segala kekhawatiranku, karena Allah maha berkehendak.

Friday, July 25, 2008

Guyon Pilwalkot di Kantor Wartawan

SEJAK hari pertama masa kampanye pemilihan walikota Bandung aku menjadi sering ngomong soal pasangan Trendi (taufikurahman-Deni Triesnahadi alias Abu Syauqi). Maklum kerena tugasku menguntit Trendi. Mereka diusung PKS karena memiliki integritas dan komitmen yang baik untuk memperbaiki kehidupan masyarakat Kota Bandung, termasuk lingkungannya. Itu kata orang PKS. Awalnya aku hanya mengiyakan saja. Karena sebagai penulis koran tentu tak bisa mengira-ira, apalagi mengarang cerita seperti kebiasaan para cerpenis. Ah, tidak.

Faktanya, selama aku menguntit Trendi, mereka emang okay. Taufikurahman yang doktor jebolan kampus di Inggris jadi jaminan kopetensinya dalam mengelola pemerintahan yang baik. Dan sekarang ia menjadi dosen di ITB. Karena dia seorang akdemisi, tentu akan lebih mendengar omongan para ahli dalam proyek pembangunan infrastruktur kota. Itu juga yang ia janjikan. Tidak seperti pendahulunya yang kebanyakan berorientasi pada kepentingan kontraktor. Anda pasti melihat begitu banyak Mall tumbuh di Kota Bandung bukan? Karena lokasinya hanya beberapa meter dari pasar tradisional, maka, tamatlah riwayat pedagang miskin. Meski tak jaminan, aku melihat dia menajdi imam dan khatib sahat Jumat.

Sementara, Abu Syauqi sudah memberikan teladan dengan mendirikan Rumah Zakat Indonesia. Tahu kan? Lembaga yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat dalam program-program pemberdayaannya. So, masih lebih bagus ketimbang dua calon lain, Dada-Ayi dan Hudaya-Nahadi. Maaf bila subjektif. Meski itu faktanya, sebagai penulis saya tetap berusaha tidak terbawa arus, condong pada satu pasangan dan tidak professional dalam peliputan.

Hanya sekadar untuk meramaikan kantor, saya sering bercanda dengan mewacanakan kebaikan-kebaikan pasangan Trendi atau membawa atribut Trendi ke kantor. Timbulah protes-ptotes dari pendukung lain. Tapi itu juga bercanda, guyon.
Tapi, hari kemarin nampaknya serius. Ada pejabat kantorku yang berkomentar dengan muka serius saat kata-kata Trendi berulang-ulang keluar dari mulutku.

"Professional dong. Jangan jelek-jelekin yang lain. Atau kamu dipindah saja."

Hayah kok serius banget seh om. Kalau aku memihak, kan mudah saja dia menghentikannya. Dipangkas atau tak usah diterbikan saja tulisanku. Beres kan? Okay lah, karena dia emang tak punya selera humor. Atau, bisa jadi sedang ada masalah di keluarganya, atau jangan-jangan dia pendukung pasangan lain. Hahahaa.......alasan yang terakhir sepertinya jauh lebih beralasan.

"Iya, dia itu temannya incumbent," kata temanku.
Wowww..patesan, nesu. Jadi yang gak professional siapa? Kalau aku hanya sekadar bercanda, tapi dia malah main emosi (Perasaan).
Sebagai peliput, aku berusaha tidak akan membawa emosi dalam ruang politik. Toch aku tidak akan memilih karena aku tidak ber-KTP Kota Bandung. Itu sikapku sebagai wartawan.
Sikap pribadiku bagaimana? Aku akan memihak. Memihak pada salah satu calon yang memihak rakyat. Tidak hanya sekadar retorika atau omong kosong belaka. Saat ini mungkin perlu ujian, bukti dan teladan. Tapi setidaknya ada harapan baru pada pemimpin baru yang amanah dan memiliki itikad baik mengubur kemiskinan dan pendidikan mahal. Bukan pemimpin lama yang punya banyak pengalaman. Ya, pengalaman. Pengalaman kegagalan membangun Kota Bandung. Jika aku memilih, aku akan memilih Trendi. Hayah....bikin orang nesu saja.

Tuesday, July 15, 2008

Untuk Lelaki di Pojok Desa

SUNGGUH aku merasa amat bahagia, Kang Rastam menikah. Sebuah cita-cita yang lama kami bicarakan. Kapan kita menikah? Dan Tuhan sudah menjawab keinginan kamu dan mbok-mu. Aku pun sangat mengerti betapa gembiranya 'mbok,' saat kamu memutuskan menikah. Karena kamu lah satu-satunya harapan baginya untuk mepersembahkan cucu yang manis. Adalah sang istri yang akan menemaninya memasak nasi. Mengirim makanan ke sawah. Menyapu halaman. Berbagi kisah, atau mengusap kening ketika kerinduan itu membuncah.

Kira-kira lima tahun lalu aku mengenal Kang Rastam. Sungguh ia telah menipuku. Menipuku dengan penampilannya yang sangat sederhana. Tubuhnya kecil. Kulitnya hitam. Rabutnya acak-acakan. Berbicara tidak jelas. Berjalan membungkuk. Semakin menipu karena sandang yang melekat di tubuhnya hampir tak pernah tersentuh strika listrik. Tapi, ia tak pernah memperdulikan itu. Pakaian bersih sudah cukup baginya. Karena penampilan itu, hampir semua temanku meremehkannya. Hampir saja aku terjebak pada penilain luar. Meski orang suka merendahkan, ia tak penah membalasnya dengan makian. Ia hanya diam dan tersenyum lembut.

Engkau tak mengerti. Kang Rastam rupanya memiliki banyak keterampilan. Merakit komputer, memperbaikinya dan menjadikannya lebih baik.Aku tahu dia memang tinggal di ujung desa. Sangat jauh dari kota. Ketika ia beranjak dari ranjang, orang-orang kampung sudah meramaikan pagi. Berpakian sederhana, dengan bekal secukupnya di punggung. Sebuah "tudung" menghiasi tangan. Tangan lain menjinjing peralatan bercocok tanam. Kang Rasta lantas bergabung dengan mereka. Berjalan menyusuri pematang sawah, lalu menyambut pagi dengan kerja keras. Sawah pun menyambut gembira.

Bila tidak, ia akan duduk santai memandang gunung Slamet di kejauhan sana. Segelas kopi dan "teme mendo" menjadi hidangan paling berselera. Tak ada yang berlebihan. Kehidupannya mengalir tanpa beban. Robingah, sang istri, seolah menjadi penyeimbang kehidupan. Kesulitan suaminya ia cukupkan dengan simpangan uang dari sisa pemberian sang suami. Kang Rastam memiliki kehidupannya sendiri. Angka-angka yang kian merusak kehidupan orang kota, tak mengusiknya. Aku kagum dengan kehidupannya. Sungguh aku ingin pulang, dan menemuimu lagi. Aku ingin belajar hidup tanpa ketamakan harta, sederhana yang menyejukan. Hidup tanpa beban dan berbaik sangka dengan sesama. Hidup penuh kasih dan penghormatan pada sesama. Aku berdoa untuk kebaikanmu. Allah akan menolongmu.

“Berinfaklah di jalan Allah dan janganlah kalian campakkan tanganmu ke dalam kehancuran, berbuatlah baik, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik .” (QS Al-Baqarah 195)

“… Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS Al-Baqarah 112).

Saturday, July 5, 2008

Jika Itu Boleh, Aku akan....

PEREMPUAN "iseng" itu kehilangan semangat. Akivitasnya menjadi tak berwarna. Berdiri mematung lalu menjatuhkan badan di sebuah papan. Perlahan kepalanya merendah di atas lipatan tangan. Tak terdengar olehnya suara hentakan keyboard komputer di pojok sana. Sunyi. Hanya sebuah kursi besi agak reot yang sudah beberapa hari ini ikut diam. Masih setia berteman dengan komputer itu. Pria yang biasa duduk di kursi itu pergi untuk beberapa saat.

"Aku ikut."

Aku tersenyum. Bila itu bisa, aku pasti akan menolongmu. Jika itu boleh aku pasti akan mengantarnya. Jika itu tak menyakiti, aku pasti akan membujuknya. Aku sahabatnya, dan aku juga sahabatmu. Sekali lagi jika itu mungkin, aku akan menjadikan kalian seolah bunga di taman yang bercinta dengan kumbang. Tapi tak bisa, meskipun hanya sekadar "ikut." Apalagi pria itu memang sudah merapatkan hatinya pada perempuan lain. Sementara engkau sudah mengiyakan janji setia pria lain.
Sedih karena kehilangan "iseng," sangatlah wajar. Sedih tak tagi bisa bercakap denganya adalah pantas, karena aku pun merasakan itu. Yang tak pantas adalah kehilangan semangat. Karena sesungguhnya perpisahan itu pasti terjadi. Dan sesungguhnya kita yang terlahir sediri akan kembali sendiri.
Aku ingin mengatakan bahwa rasa suka itu adalah wajar. Dan memaksakan orang lain untuk suka akan menyakitkan. Biarkan dia tahu akan keihlasan rasa suka itu. Dan sesungguhnya jika Tuhan menghendaki, tak seorang pun yang mampu menghalanginya.
Tahukan engkau kawan, bahwa hidup hari ini adalah anugrah. Sepantasnya kita mensyukurinya. Menjadikannya bermakna, dan penuh kesan indah. Kamu bisa melakukannya dengan berbagi kebaikan dengan sesama.
Jika kamu ingin tenang, tenteram dan damai maka Sholatlah, karena sesungguhnya Sholat sangatlah cukup untuk hanya sekedar menyirnakan kesedihan dan segala kerisauan jiwa.

(Wahai orang-orang yang berimana, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat) QS. Al-Baqarah : 153.

Setiap kali Rasulullah SAW dirundung kegelisahan, Rasulullah SAW selalu meminta kepada Bilal bin Rabbah "tenangkanlah kami dengan shalat, wahai Bilal".


Dan aku sudah melihatmu melakukan Shalat. Maka, tenangah jiwa yang sedang gelisah lagi bersedih. Aku ucapkan selamat, karena engkau adalah wanita yang sahalat. Maka, berbahagialah.