Saturday, December 12, 2015

Festival Antikorupsi dan Pilkada

Oleh Kisdiantoro

PEKAN ini Indonesia menyelenggarakan dua hajat besar, pemilihan kepala daerah (Pilkada) bupati/walikota pada Rabu (9/12) dan gelaran Festival Antikorupsi Bandung 2015 pada Kamis (10/12) yang berpusat di Kota Bandung.

Entah kebetulan atau tidak, dua hajat tersebut berlangsung secara berurutan. Pilkada yang dalam prosesnya telah memakan waktu lama, menyaring sejumlah pasangan secara ketat untuk menjadi bagian dari pesta demokrasi serentak ini. Mulai dari kelengkapan administrasi, seperti keaslian ijazah, kesehatan pasangan, laporan harta kekayaan, jumlah tim sukses, bebas dari konsumsi narkoba,  tidak dalam masa hukuman, dan lain sebagainya. Lalu dilanjutkan penyelenggaraan sosialisai dan kampanye. Tahap akhir, penyelenggaraan pemilihan para kontestan dan penetapan pemenang Pilkada oleh KPU.

Proses seleksi yang ketat itu diharapkan agar para pasangan calon terpilih mampu memenuhi harapan rakyat, bertindak adil, bekerja keras, mensejahterakan rakyat, dan yang dominan mendapat sorotan adalah tidak mencuri harta rakyat yang nantinya akan mengantarkan mereka ke penjara.

Sementara ini, Pilkada di Jawa Barat berjalan kondusif, tak terdengar kegaduhan dan teriakan keras pada pasangan calon kepala daerah memprovokasi para pendukungnya untuk mengacaukan Pilkada, karena perolehan suara rendah. Kapolri Jenderal Badrodin Haiti yang memantau jalannya Pilkada di Karawang, mengatakan, mendengar adanya praktik politik uang di sejumlah daerah. Bila ada temuan dan pasangan calon tidak terima, maka jalur hukum adalah solusinya, bukan pengadilan jalanan atau pengerahan massa untuk menciptakan suasana rusuh.

Masih dalam suasana Pilkada, Festival Antikorupsi Bandung 2015 yang berpusat di Kota Bandung menggema ke seluruh penjuru Indonesia, termasuk ke daerah-daerah yang menyelenggarakan Pilkada. Sejumlah tokoh antikorupsi datang ke acara ini, mulai dari Plt Ketua KPK Taufikurahman Ruki, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Menkopohukam Luhut Panjaitan, Menteri ESDM Sudirman Said, Kepala Kejaksaan Agung HM Prasetyo, hingga sejumlah wali kola dan bupati.

Acara ini membawa pesan agar rakyat dan semua pihak yang mengelola negeri ini melawan praktik korupsi. Praktik mencuri uang rakyat ini disepakati sebagai tindakan kejahatan berat karena merugikan dan menyengsarakan kehidupan rakyat. Kejahatan berat ini diharapkan tidak dilakukan oleh para pemenang kepala daerah yang baru. Jika kelak mereka tetap melakukan korupsi, sungguh terlalu. Pesan larangan itu terdengar sangat keras, apalagi teriak

Anak-anak Indonesia yang membentangkan kain berisi 20.000 cap tangan di Perca Intergitas di Alun-alun Bandung dalam Festival Antikorupsi tidak hanya menentang korupsi, tapi mereka mencintai para pemimpin agar tidak menghabiskan waktu bertahun-tahun di dalam penjara.
an stop korupsi berlangsung beriringan dengan hajat Pilkada.

Cukuplan sejumlah cerita para kepala daerah yang masuk penjara karena korupsi menjadi pelajaran berharga. Kasus teranyar kepala daerah masuk penjara adalah Bupati Sumedang Ade Irawan yang divonis dua tahun penjara karena terbukti melakukan korupsi dana perjalanan dinas. Sebelumnya, Majelis Hakim memvonis mantan Wali Kota Bandung Dada Rosada 10 tahun penjara karena tersangkut kasus korupsi dana bantuan sosial (Bansos). Lalu, Bupati Garut Agus Supriadi dihukum 10 tahun penjara dalam pengadilan banding karena melakukan korupsi APBD Kabupaten Garut tahun anggaran 2004-2007. Contoh lain, Mantan Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan, divonis empat tahun penjara, karena kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran Jawa Barat 2004. Beberapa kepala daerah yang terseret kasus korupsi divonis bebas.

Apakah mereka gembira? Dalam bantin mengatakan 'tidak.' Sebab, dalam sejarah mereka akan tercatat pernah masuk pengadilan karena perkara korupsi. Maka, para bupati/waki kota terpilih dalam hajat Pilkada, ingatlah pesan Festival Antikorupsi Bandung 2015, kebahagiaan pun akan engkau raih. (*)





Sorot, Sabtu, 12 Desember 2015

Kendel, Kandel, Bandel, Ngandel

ANAK-anak pelajar Sekolah Dasar di Kota Bandung mengekspresikan penolakan terhadap korupsi yang merajalela di Indonesia. Mereka melakukan dengan membubuhkan cap tangan di atas kain perca. Lalu menggoreskan spidol hitam dengan kata-kata yang isinya "lenyaplah" korupsi dan koruptor dari bumi Indonesia.
Cap telapak tangan murid-murid SD Kota Bandung itu akan dipajang di Alun-alun Kota Bandung di Hari Antikorupsi pada 9 Desember 2015. Kegiatan yang berlangsung Jumat (27/11/2015) itu sejatinya adalah upaya keras untuk memutus mata rantai korupsi yang menjangkit negeri ini.
Pendidikan antikorupsi sejak dini adalah jalurnya. Melalui upaya semacam itu, kita ingin anak- anak memiliki sifat kendel, kandel, bandel, ngandel. Empat kata ajaran bapak guru bangsa Ki Hajar Dewantara yang jarang terdengar di telinga.
Umumnya, kita hanya mengenal Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani.
Ki Hajar meyakini empat hal itu dapat membentengi manusia dari berbuat curang dan bertindak tanpa landasan yang benar.
Kendel, artinya berani. Maksudnya, kita berupaya sejak dini agar anak-anak berani bersiap dan melakukan apa saja yang baik demi kemajuan dirinya dan orang lain.
Tapi berani saja tidak cukup. Karena banyak tindakan yang dilakukan hanya bermodal berani ternyata salah dan mengganggu orang lain bahkan negara. Apalagi jika tak disertai tanggungjawab. Sebagai contoh, peristiwa ricuh kongres HMI di Pekanbaru, Riau.
Dengan beraninya, sekelompok (oknum) mahasiswa anggota kongres memukul dan melemparkan batu hingga terjadi kericuhan. Kongres yang mestinya menjadi ajang latihan bagi para mahasiswa memimpin negeri ini, malah jadi ajang tawuran dan meluapkan kemarahan. Sejumlah korban terluka dan dilarikan ke rumah sakit. Polisi menemukan banyak alat bukti berupa senjata api rakitan, parang, dan lainnya.
Berita mengejutkan lain, ratusan anggota kongres itu makan di restoran dan tidak membayar. Tindakan yang berani tapi tidak bertanggungjawab. Akhirnya mereka pun ditangkap polisi. Maka, anak-anak perlu memiliki sifat kandel. Maksudnya, anak harus tumbuh dengan ilmu yang luas.
Ilmu itulah yang akan memagari anak berbuat curang atau melanggar hukum. Ilmu yang menyadarkan mereka bahwa korupsi adalah pelanggaran dan dapat membuat hidup sengsara. Banyak contoh yang menggambarkan betapa sakitnya menjadi koruptor yang menjadi penghuni penjara atau wara wiri muncul di televisi dengan status "tersangka korupsi."
Kita juga menginginkan anak-anak tumbuh dengan sifat bandel. Loh? Bandel yang dimaksud Ki Hajar adalah anak-anak haruslah memiliki sifat yang tahan, kuat, resisten, terhadap godaan. Godaan dari semua ajakan berbuat jahat dan curang.
Banyak pejabat di negeri ini sangat tahan terhadap godaan berbuat curang tapi begitu masuk lingkaran kekuasaan, menjadi pejabat eksekutif maupun legislatif, terperangkap korupsi. Akhirnya, penjara pun menjadi rumah mereka.
Agar keberanian, ilmu, dan ketahanan diri terhadap godaan negatif anak-anak menjadi sempurna, Sang pendiri Perguruan Taman Siswa itu, melengkapi sifat lain, yakni ngandel.
Anak Indonesia haruslah ngandel atau percaya diri. Bukan overconvidence! Melainkan percaya diri karena setiap tindakannya dipercaya, dipegang kejujurannya, dan karena kebaikan-kebaikan lainnya.
Karena kebaikan itulah yang mengangkat derajat seseorang baik di dunia maupun ketika sudah wafat. Akhirnya, kita berharap semoga usaha keras para pendidik agar anak-anak memiliki sifat kendel, kandel, bandel, ngandel ini tidak sia-sia dan kalah pengaruh dari derasnya contoh buruk yang diberikan olah para pemimpin bangsa ini. (*)

Sorot, Senin, 30 November 2015 11:02

Doa Si Miskin Asep Sutandar Terkabul Melalui Tangan Sang Komandan

DOA yang dipanjatkan Asep Sutandar (63) dan keluarganya selama bertahun-tahun dikabulkan Allah, melalui perantara tangan Komandan Distrik Militer 0608 Kabupaten Cianjur, Letkol Arm Imam Haryadi. Keinginannya memiliki rumah yang layak untuk menggantikan kandang ayam yang belakangan ditempati Asep bersama istri dan delapan anaknya, segera terwujud.

Kenyataan yang sulit dibayangkan sebelumnya. Sebagai buruh tani di Kampung Selakopi, Desa Babakan Caringin, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, penghasilnya hanya cukup untuk makan dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Gubuk reyot yang akhirnya hancur diterjang angin kencang pun tak dapat ia dirikan kembali. Itu mengapa Asep dan keluarganya terpaksa tinggal di kandang ayam, tak jauh dari sawah garapannya.
Apa yang dilakukan Letkol Arm Imam Haryadi? Imam tidak menggunakan sihir atau sulap untuk membangunkan rumah Asep, melainkan ia memanfaatkan kekuasaan dan amanah yang dimilikinya. Sebagai anggota tentara yang mengepalai Distrik Militer Cianjur, mudah baginya mengerahkan kolega dan anak buahnya, untuk melakukan banyak hal, termasuk gotong royong membangun rumah untuk Asep. Pasukan tentara sudah siap diterjunkan untuk turut membangun rumah. Imam memastikan rumah layak untuk Asep akan berdiri dalam waktu 14 hari.
Kata-kata dan perintahnya bak "jimat" yang dapat menembus tembok tebal birokrasi dan rasa empati yang tak tersalurkan. Hanya dengan bicara, Haji Rasimin, majikan Asep, pun merelakan tanahnya dipakai mendirikan bangunan. Obrolan yang selama ini mungkin tak dilakukan. Buktinya, Camat Karangtengah, yang membawahi Desa Babakan Caringin, tempat Asep sekeluarga tinggal, sampai kemarin mengaku tidak tahu ada warga yang hidup di kandang ayam.
Belakangan Pemerintah Kabupaten Cianjur bertindak. Tapi langkahnya kalah cepat. Meski menjanjikan akan memberikan bantuan material untuk membangun rumah Asep, pencairannya memerlukan waktu lama karena harus menunggu laporan berjenjang dari RT, RW, desa, kecamatan, baru setelah itu diusulkan kepada Bupati.
Tentara atau sipil yang memiliki jabatan atau kekuasaan berkewajiban menggunakan amanah sebaik-sebaiknya sehingga memiliki manfaat besar untuk kemaslahatan manusia. Bukan sesuatu yang sulit bagi mereka untuk mengerahkan massa dan anggaran untuk membantu rakyat yang kesulitan. Jika anggaran tak tersedia di kas daerah, mereka bisa mengajak kolega atau perusahaan untuk terlibat menyelesaikan masalah warga.
Di Cianjur, warga yang bernasib seperti Asep atau bahkan lebih miskin, masih banyak. Data dari Badan Pusat Statistik Cianjurmenyebutkan tahun 2014, warga miskin di Cianjur, berjumlah 259.547 orang dari total penduduk sebanyak 2,2 juta jiwa.
Pemerintah bisa saja mengkalim angka kemiskinanya turun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kondisi ekonomi yang labil mengakibatkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Ditambah banyaknya alih fungsi lahan, para petani pun kehilangan pendapatan.
Gotong royong adalah solusinya. Namun, kebersamaan ini mulai tergerus oleh budaya kota. Maka perlu ada usaha dari pemerintah atau orang-orang yang berpengaruh untuk menggerakan massa, melakukan sesuatu yang positif dan produktif. Seperti halnya yang dilakukan Letkol Arm Imam Haryadi. Jika Bupati, Camat, Lurah,Dandim, Danramail, Kapolres, Kapolsek, melakukan itu, maka kekuasaan yang mereka miliki menjadi kekuasaan yang menolong. Kaum papa pun menjadi merasa memiliki "ayah" yang akan membantu menyelesaikan kesulitannya. (*)
Sorot, Bandung, Sabtu, 14 November 2015

Saturday, November 1, 2014

Rakyat Mengarak Jokowi-JK


RAKYAT Indonesia menyambut gembira pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK), Senin (20/10). Suka cita itu tergambar dari antusiasnya sebagian rakyat Indonesia yang sudah berada di bundaran Hotel Indonesia dan kawasan Monumen Nasional (Monas) sejak Senin dini hari, bahkan ada yang datang pukul 00.00 WIB.

Setelah secara resmi Jokowi-JK mengemban amanah rakyat untuk memerintah negeri ini melalui sumpah presiden dan simbol pegantian posisi dukuk antara mantan Presiden SBY dan Presiden Joko Widodo, rakyat pun tak lantas pulang. Mereka tetap berkerumun, menanti Jokowi dan JK, menghampiri kerumunan massa di kawasan bundaran Hotel Indonesia.

Sesaat setelah pelantikan di hadapan MPR dan ratusan tamu undangan, pasangan presiden terpilih melalui Pilpres 2014 yang dipilih langsung oleh rakyat itu, mengganti kendaraan kepresidenannya dengan menaiki kereta kuda. Rakyat mengaraknya menuju ke Itana Merdeka, simbol rumah negera tempat Jokowi akan memulai pekerjannya, mewujudkan harapan rakyat mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Di atas kereta kuda, Jokowi-Kalla menyapa rakyat dengan senyuman dan lambain tangan. Keduanya pun tak menjaga jarak ketika rakyat menginginkan jabat tangan. Keduanya pun tak segan melepas jasnya di tengah kerumunan massa yang mengaraknya.Arak-arakan itu terus disesaki massa hingga ke gerbang Istana Negara.

Antusiasme menyambut presiden baru juga terlihat di banyak tempat. Di Kabupaten Garut misalnya, sejumlah PNS dan kelompok masyarakat meluangkan waktu untuk melihat proses pelantikan Jokowi-JK.
Apa mkna dari kegembiraan rakyat mengarak Jokowi-JK dalam Kirab Budaya dan Syukuran Rakyat itu? Kegembiraan itu bisa diartikan bahwa Jokowi-JK dalam memerintah dan mewujudkan harapan rakyat tidak akan berjalan sendiri, melainkan rakyat akan bergotong royong membantu keduanya. Kesediaan para pedagang bakso dan jajanan lain yang menyediakan ratusan ribu porsi untuk orang-orang yang menghadiri acara tersebut secara gratis adalah bukti kecil rakyat begitu mencintai pemimpinnya.

Kehadiran ribuan orang yang diperkirakan jumlahnya mencapai 150.000 itu juga bisa diartikan bahwa siapapun yang akan menggangu pemerintahan Jokoi-JK dengan cara-cara kotor dan curang akan berhadapan langsung dengan rakyat (people power).

Makna lain dari kehadiran ribuan orang itu adalah agar pemerintahan Jokowi-JK harus selalu mengingat setiap detik, apapun yang keduanya kerjakan, semata-mata untuk kepentingan rakyat, bukan untuk mensejahterakan keluarga atau partai politik pengusung dan koalisinya.

Maka, jika dalam perjalanannya, Jokowi-JK melupakan rakyat, mengingkari janji mensejahterakan rakyat, dan berbuat curang, maka rakyat tak akan segan untuk mengoreksinya. Bahkan, jika keduanya sudah sangat keterlaluan menyakiti rakyat, maka kekuatan rakyat bisa melengserkan keduanya.

Pemerintahan sebelumnya adalah cermin. Ada banyak pembantu presiden, pejabat negara, dan elit partai koalisi pengusung pasangan presiden, tersandung kasus korupsi. Masalah-masalah tersebut menggangu konsentrasi pemerintah memenuhi kewajibannya untuk mensejahterakan rakyat karena uang negara dirampok.

Rakyat yang kemarin datang ke Bundaran HI, kawasan Monas, dan mereka yang menyimak Jokowi-JK mengucapkan sumpah untuk bekerja keras memenuhi hak rakyat dengan tidak melanggar Undang-undang Dasar dan peraturan melalui layar televisi, sangat berharap keduanya akan terus amanah hingga jabatan mereka kembali diserahkan ke rakyat. Selamat bekerja. (Kisdiantoro)













Wednesday, October 15, 2014

Saritem

Oleh Kisdiantoro

PEREMPUAN muda yang seusia dengan pelajar SMP kelas dua, mengaku dalam semalam mampu melayani lima laki-laki hidung belang saat sedang "bekerja" di bekas lokalisasi Saritem,  Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Jika sedang sepi, rezeki dalam semalam terkadang hanya mengucur dari tiga orang tamu.

Majikannya membadrolnya seharga Rp 250.000 setiap kali kencan. Tapi, uang itu tak semua menjadi miliknya. Ia harus berbagi dengan majikan dan calo yang mengantar tamu. Sekali kencan, rata-rata ia menghabiskan waktu selama 60 menit.

Akhir pekan atau masa liburan adalah waktu yang paling ditunggu-tunggu. Selama itu, perempuan muda itu akan mendapatkan banyak rezeki setelah melayani banyak tamu.Tidak hanya lima orang, tapi bisa tujuh orang dalam semalam.Kisah memilukan ini dikutip dari sebuah artikel di laman kompas.com pada akhir tahun 2012.

Seharusnya di tahun itu, di bekas lokalisasi Saritem sudah tak ada kisah semacam itu, karena Dada Rosada yang saat itu masih menjabat sebagai wali kota, pada April 2007  telah menutup lokalisasi Saritem dari kegiatan prostitusi. Meski ada perlawanan dari penduduk setempat yang menggantungkan hidup dari usaha prostitusi, tapi akhirnya para germo dan perempuan tuna susila (PSK) sepakat pulang kampung untuk beralih profesi.

Setelah peristiwa itu, Kota Bandung seolah sudah mengubur dalam kegiatan prostitusi di bekas lokalisasi Saritem. Tapi, kenyataanya secara diam-diam para pekerja seks yang semula "pamitan" pulang dan memilih usaha lain, kembali lagi ke Saritem. Para laki-laki yang hobi "jajan" pun kembali mampir.

Selain kisah perempuan muda yang dalam semalam melayani lima orang tamu itu, beberapa hari lalu, tepatnya pada Jumat (13/6), dalam operasi penyakit masyarakat yang dilakukan oleh Satpol PP Kota Bandung dibantu aparat Polisi dan TNI, menjaring sejumlah perempuan pekerja seks, berikut laki-laki hidung belang yang hendak berkencan. Petugas juga menemukan 4.000 botol miuman keras berbagai merek.
Seperti halnya yang ditakutkan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dalam sebuah tayangan televisi hingga dia menangis, lokalisasi prostitusi membahayakan bagi anak-anak. Apalagi mereka baru berstatus sekolah dasar (SD) dan SMP. Membahayakan karen anak-anak rupanya sudah berani patungan untuk membayar seorang pekerja seks dan melakukan adegan sebagaimana mereka tonton dalam sebuah video mesum.

Mengerikan bukan? Ulah anak-anak sekolah itu pun menjadikan seorang nenek tua yang mestinya pensiun dari dunia prostitusi tetap melakukan pekerjaan tersebut. Dia menampung anak-anak sekolah yang hanya mampu membayar dengan uang recehan. Dengan alasan itu pula kemudian Pemerintah Kota Surabaya menutup lokalisasi prostitusi Dolly dan Jarak. Yah, meskipun banyak mendapatkan tentangan dari warga dan PSK di tempat itu. Dada Rosada pun saat memutuskan menutup Saritem satu di antaranya karena alasan melindungi anak-anak dari pengaruh negatif kegiatan prostitusi.

Memang tidak akan mudah menutup bekas lokalisasi Saritem hingga benar-benar bersih dari kegiatan prostitusi. Menurut catatan, usia bekas lokalisasi Saritem sudah lebih dari 170 tahun. Saritem pada mulanya didirikan oleh orang-orang Belanda yang tinggal di tanah Priangan dan konon sudah ada sekitar tahun 1838.
Meskipun sepertinya sudah mengakar, dengan tekat yang kuat dan program kemanusiaan yang digalakan Pemkot Bandung, penutupan Saritem yang sudah berlangsung pada 2007 lalu itu akan benar-benar tutup. Rencana Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang akan menjadikan Saitem sebagai pasar tematik perlu dicoba dan segera direalisasikan. Dengan cara itu, warga setempat yang semula mengantungkan hidup dari kegiatan prostitusi bisa beralih mejadi pedagang atau pekerja di sentra usaha tersebut. Jika hal ini benar-benar berjalan, Satpol PP sebagai kepanjangan tangan pemerintah tidak boleh lengah. Mereka tetap melakukan pembinaan dan razia secara rutin agar kegiatan prostitusi tidak kembali beroperasi. Ingat! Kita tidak ingin anak-anak menjadi korban dan masa depannnya rusak karena terjebak dalam kubangan dunia prostitusi. (*)

Bandung, 19 Juni 2014

Bekas Pejabat "Lupa" Belum Kembalikan Mobil

ILUSTRASI: Deni Denaswara
APA yang semenstinya Anda lakukan jika barang pinjaman sudah selesai digunakan? Jika Anda menyadari bahwa barang yang Anda pinjam bukanlah milik Anda, maka menjadi sebuah kewajiban untuk mengembalikannya kepada yang memilikinya. Tidak hanya itu, selain barang yang Anda pinjam dipastikan dalam keadaan baik, baik bentuk dan fungsinya, Anda juga berkewajiban menyampaikan rasa terimakasih yang besar karena kemurahan hari orang yang menolong Anda. Jika Anda bekelebihan rezeki, buah tangan bisa Anda sertakan sebagai penebus kebaikan orang lain. Benar begitu?

Tapi, hukum memberi pertolongan belum tentu akan berlaku demikian. Mengapa? Karena bisa saja seseorang tidak sengaja atau menyengaja agar yang memiliki barang pinjaman lupa bahwa hartanya sedang berada di tangan orang lain. Setelah lupa, berharap barang tersebut tak lagi diminta untuk dikembalikan. Hal demikian sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Tapi, umumnya adalah untuk barang-barang kecil dan bernilai tidak besar. Semisal, meminjam sendok dan mangkok tetangga, karena sewaktu tukang bakso lewat di depan rumah, kabita saat para tengga juga makan bakso. Tak enak membuat pedagang menunggu Anda selesai makan, maka terpaksa meminjam mangkok dan sendok tetangga. Setelah beberapa lama diam di rumah, perabot itu tak kunjung dikembalikan. Tenyata Anda lupa.Kalau sudah ingat? Ya, langsung dikembalikan. Jangan menyengaja lupa!

Menurut Anda, apakah para anggota DRPD yang kini gagal kembali menduduki kursinya, tak kunjung mengembalikan mobil dinas ke pemerintah karena lupa? Atau sedang berusaha agar pemerintah lupa ada mobil yang sedang dipinjamkan, lalu berharap mobil tersebut akan mejadi miliknya?
Jika jawabannya tidak, karena para mantan wakil rakyat masih sehat dan dapat membedakan perkara benar dan salah, maka sudah sepantasnya mobil-mobil pinjaman itu dikembalikan kareana masa pemakaiannya sudah kadaluarsa seiring bergantinya jabatan.

Soal mantan anggota dewan yang berpilaku demikian bukanlah karangan, tapi memang benar- benar ada. Di Tasikmalaya, masih ada mantan anggota DPRD yang ngeukeuweuk (memegang)
mobil dinas. Padahal mobil dinas tersebut akan digunakan oleh anggota DPRD yang baru untuk menjalankan tugasnya. Anggota DPRD baru tersebut akan dilantik 3 September 2014. Maka, jika para mantan anggota DRPD itu tetap "lupa" mengembalikan pinjaman, tentu akan menghambat kerja para wakil rakyat yang baru.
Aneh memang, kok bisa lupa. Padahal Sekretariat DRPD Kota Tasikmalaya sudah melayangkan surat permohonan pengembalikan mobil dinas kepada para mantan anggota dewan yang memakainya. Kalau tetap lupa? Pemerintah bakal meminta bantuan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Tambah aneh lagu bukan? Masak, majikan sampai harus bekerja ekstra untuk mengambil harta miliknya.

Kasus mantan pejabat menjadi "lupa" memang tak hanya mewabah di Tasikmalaya. Di Kota Cimahi dan Cianjur juga terjangkit. Bahkan mungkin di daerah lain di Jawa Barat juga demikian. Di Cimahi sampai akhir Agustus lalu, masih ada 7 mobil dinas yang dikuasi oleh mantan anggota dewan. Di Cinajur barangkali memang perlu bantuan Satpol PP untuk mengambilnya. Pemerintah kelimpungan menarik mobil dinas karena seringkali ketika petugas mendatangi rumah mantan pejabat itu, mobil tak ada di tempat. Sampai pertengahan Agustus, baru 4 mobil yang bisa ditarik.

Mereka sudah bukan anggota dewan lagi. Jadi tidak layak mendapatkan fasilitas. Bagi mereka yang masih menginginkan fasilitas, bisa jadi karena sedang terjangkit post-power syndrome alias berada dalam suatu keadaan hidup dalam kebesaran bayang - bayang masa lalunya saat masih berkuasa, dan belum dapat menerima realita bahwa kekuasaan telah beralih. Kini mereka kembali menjadi bagian dari rakyat biasa yang kekuasaanya diwakilkan kepada orang lain. Kalau bayang-bayang itu masih ada, maka keinginan untuk terus disanjung dan dihormati secara berlebihan akan terus ada. Dan dan fasilitas mobil dinas dianggap sebagai bagian dari kewibawaan dan kehormatan. Kasihan! Mereka butuh bantuan Anda menemukan jalan yang benar. (Kisdiantoro)
 
Artikel telah dipublikasikan di Tribun Jabar edisi 2 September 2014

Sesungguhnya Bersama Kesulitan ada Kemudahan

AKU tak percaya dengan peristiwa yang menimpa sahabat perempuanku. Tapi itu benar terjadi. Perempuan yang baik, lagi taat kepada suaminya telah disia-siakan. Suaminya telah memutuskan tali penikahan itu dengan cara yang kasar. Sungguh keputusan yang tak bisa diterima akal sehat. Apalagi sudah hadir di tengah mereka seorang bayi laki-laki yang lucu. Sungguh laki-laki itu akan menyesal. Menyesal karena telah berpaling dari perempuan beriman, rajin shalat lagi lembut hatinya.

Sesungguhnya, yang aku tahu, perempuan itu begitu setia. Meyakinkan dirinya bahwa laki-laki itu adalah imamnya. Tahukan engkau lelaki, perempuan shalat lagi beriman lebih lembut hatinya ketimbang perempuan yang meninggalkan shalat. Karenanya, ia akan sangat hormat dengan suaminya.

"Gw tahu Tuhan mengujiku karena aku mampu menjalaninya," kata perempuan itu.

Aku bersyukur karena sahabat perempuanku itu bisa memaknai semua ujian yang menimpanya. Aku yakin peristiwa menyakitkan itu adalah ujian bagi orang shaleh. Berusahalah untuk ikhlas, kaerna sesungguhnya ujian ini menjadi ladang amal yang berlimpah.

Kelak anak lelakimu akan bangga karena kerja keras ibunya. Ia akan tahu bahwa engkau telah merawatnya, mendidiknya dan menjadikan lelaki beriman. Ia akan sayang kepadamu. Maka, tunjukanlah dia dengan banyak kebaikan. Ajari untuk taat dengan Allah. Ajari untuk tidak menyakiti orang lain. Ajari untuk bisa ikhlas. Ajari untuk hormat dengan sesama. Mengapa? Karena Tuhan-mu telah menghadirkan seorang guru dalam bentuk yang lain (sumimu), untuk tidak menyakiti orang lain.

Wai perempuan shaleh, aku hanya ingin mengingatkan, bahwa sesungguhnya bersama kesulitan akan datang kemudahan. Itu janji Allah. Karenanya, aku tak perlu meyakinkanmu, karena engkau adalah perempuan shaleh.

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakan dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (Surat Alam Nasyrah 94)

Aku juga ingin mengatakan bahwa sesungguhnya tetesan air mata itu akan berganti dengan seyum segar (sama banget dengan judul blog aku, www.maskisdian.multiply.com), hujan akan berganti terang, terik matahari akan mengeringkan baju yang basah, dan gelapnya malam akan berakhir dengan datangnya pagi.
Kalau saat ini engkau sedang berjalan di jalan yang menanjak, janganlah bersedih, karena sesungguhynya sesudah itu engkau akan menapaki jalan yang menurun. Maka, bersabarlah.

Karena aku ini lemah, aku memohon kepadamu ya Allah, Jangan pernah tinggalkan aku sedetik pun. Jangan pula Engkau serahkan urusan aku kepadaku meski hanya sedetik, meski hanya setitik, karena sesungguhnya hamba ini lemah. Teramat lemah jika bukan karena kekuatan dari-Mu. Allah, semua urusan bermula dari-Mu, kuserahkan semua itu kembali kepada-Mu, karena aku hanyalah hamba-Mu yang tak memiliki daya upaya dan kekuatan apapun.