Showing posts with label Cianjur. Show all posts
Showing posts with label Cianjur. Show all posts

Saturday, June 25, 2016

Prostitusi di Malam Ramadan

Malam-malam bulan Ramadan di sejumlah tempat, masjid dan mushala, di Jawa Barat disesaki oleh jamaah yang mengerjakan salat tarawih berjamaah. Kemeriahan Ramadan dilanjutkan dengan berzikir atau membaca ayat-ayat di dalam Alquran. Umat Islam meyakini pada bulan yang diwajibkan puasa bagi setiap orang yang beriman, ada pahala yang berlipat ganda pada setiap amalan. Tentu amal kebaikan.

Di akhir ujian mengerjakan puasa sebulan penuh, umat Islam akan mendapati hari yang amat membahagiakan, Idulfitri. Hari kembalinya orang-orang yang berpuasa kembali suci karena Allah telah mengampuni dosa-dosanya. Bahkan di dalam sebuah hadist Nabi Muhammad, disebutkan, barang siapa yang mengerjakan puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan keihlasan maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Untuk mendapatkan ampunan Allah tentu tidak cukup dengan menahan lapar dan dahaga saja. Melainkan diiringi dengan menutup celah untuk berbuat maksiat atau amalan-amalan keburukan. Hal itu juga belum cukup karena selama 11 bulan lain di luar Ramadan, seseorang yang berharap mendapatkan ampunan Allah, juga mestinya menjaga dirinya untuk tetap berbuat kebaikan. Jika ia tak mampu menambah dengan amalan sunah, maka setidaknya mengerjakan standar minimal ketataatan kepada Allah.

Lalu bagaimana mungkin Allah akan menghapus dosa-dosa seseorang jika menyambut Ramadan dengan cara melakukan amalan keburukan. Seperti halnya yang dilakukan sejumlah wanita di Cianjur yang tertangkap Satpol PP, sedang kongkow hingga larut malam di malam Ramadan.

Apa yang sedang mereka lakukan? Kepada petugas mereka mengatakan sedang papajar alias menyambut Ramadan. Alasan yang tidak bisa diterima karena hal itu dilakukan di tempat-tempat dan waktu yang tidak lazim. Mereka berkumpul di tempat hiburan malam hingga dini hari.

Papajar sebenarnya adalah tradisi yang baik jika mereka melakukannya seperti yang dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu. Orang-orang Cianjur menggelar trandisi papajar ini dengan melakukan tafakur, berzikir, dan memperbanyak silaturahim dengan sanak keluarga. Mencurahkan rasa bahagia akan datangnya Ramadan, lalu sebagian diantaranya melakukan makan bersama. Tempatnya bisa di rumah atau objek wisata yang tak jauh dari kediaman mereka. Tradisi ini, di tempat lain dikenal dengan istilah munggahan, bersilaturahmi sembari makan bersama.

Maka, Satpol PP Kabupaten Cianjur telah berbuat kebaikan dengan mengamankan sekumpulan perempuan yang kongkow di tempat hiburan di malam Ramadan. Bukan saja karena hal itu memang dilarang, tetapi juga dikhawatirkan menjadi bagian dari kegiatan prostitusi yang belakangan muncul di Cianjur.

Seperti diketahui, beberapa hari menjelang Ramadan Polres Cianjur berhasil mengungkap bisnis prostitusi via online dengan menagkap dua orang mucikari. Teganya, mereka menjajakan perempuan yang masih bersetatus pelajar SMA. Miris bukan?

Setelah pengungkapan itu, nampaknya Pemerintah Kabupaten Cianjur tak mau wilayahnya menjadi tempat transaksi prostitusi. Maka, petugas Satpol PP pun kini kian gencar melakukan pengawasan di rumah kos dan villa yang dicurigai kerap dijadikan tempat prostitusi.

Di Ramadan yang penuh berkah, berharap prostitusi bisa dihapuskan karena akan merusak moral generasi muda. Setelah tindakan razia, pemerintah wajib memikirkan kehidupan mereka agar tidak kembali ke jalan yang salah. Pembinaan dan penyediaan lapangan pekerjaan adalah satu diantara solusi yang perlu dipikirkan. Jika sebelas bulan dapat dilalui dengan kebaikan-kebaikan, maka ampunan Allah di bulan Ramadan berhak untuk didapatkan. (*)

Telah diterbitkan di Tribun Jabar edisi cetak dan online, 7 Juli 2016

Saturday, December 12, 2015

Doa Si Miskin Asep Sutandar Terkabul Melalui Tangan Sang Komandan

DOA yang dipanjatkan Asep Sutandar (63) dan keluarganya selama bertahun-tahun dikabulkan Allah, melalui perantara tangan Komandan Distrik Militer 0608 Kabupaten Cianjur, Letkol Arm Imam Haryadi. Keinginannya memiliki rumah yang layak untuk menggantikan kandang ayam yang belakangan ditempati Asep bersama istri dan delapan anaknya, segera terwujud.

Kenyataan yang sulit dibayangkan sebelumnya. Sebagai buruh tani di Kampung Selakopi, Desa Babakan Caringin, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, penghasilnya hanya cukup untuk makan dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Gubuk reyot yang akhirnya hancur diterjang angin kencang pun tak dapat ia dirikan kembali. Itu mengapa Asep dan keluarganya terpaksa tinggal di kandang ayam, tak jauh dari sawah garapannya.
Apa yang dilakukan Letkol Arm Imam Haryadi? Imam tidak menggunakan sihir atau sulap untuk membangunkan rumah Asep, melainkan ia memanfaatkan kekuasaan dan amanah yang dimilikinya. Sebagai anggota tentara yang mengepalai Distrik Militer Cianjur, mudah baginya mengerahkan kolega dan anak buahnya, untuk melakukan banyak hal, termasuk gotong royong membangun rumah untuk Asep. Pasukan tentara sudah siap diterjunkan untuk turut membangun rumah. Imam memastikan rumah layak untuk Asep akan berdiri dalam waktu 14 hari.
Kata-kata dan perintahnya bak "jimat" yang dapat menembus tembok tebal birokrasi dan rasa empati yang tak tersalurkan. Hanya dengan bicara, Haji Rasimin, majikan Asep, pun merelakan tanahnya dipakai mendirikan bangunan. Obrolan yang selama ini mungkin tak dilakukan. Buktinya, Camat Karangtengah, yang membawahi Desa Babakan Caringin, tempat Asep sekeluarga tinggal, sampai kemarin mengaku tidak tahu ada warga yang hidup di kandang ayam.
Belakangan Pemerintah Kabupaten Cianjur bertindak. Tapi langkahnya kalah cepat. Meski menjanjikan akan memberikan bantuan material untuk membangun rumah Asep, pencairannya memerlukan waktu lama karena harus menunggu laporan berjenjang dari RT, RW, desa, kecamatan, baru setelah itu diusulkan kepada Bupati.
Tentara atau sipil yang memiliki jabatan atau kekuasaan berkewajiban menggunakan amanah sebaik-sebaiknya sehingga memiliki manfaat besar untuk kemaslahatan manusia. Bukan sesuatu yang sulit bagi mereka untuk mengerahkan massa dan anggaran untuk membantu rakyat yang kesulitan. Jika anggaran tak tersedia di kas daerah, mereka bisa mengajak kolega atau perusahaan untuk terlibat menyelesaikan masalah warga.
Di Cianjur, warga yang bernasib seperti Asep atau bahkan lebih miskin, masih banyak. Data dari Badan Pusat Statistik Cianjurmenyebutkan tahun 2014, warga miskin di Cianjur, berjumlah 259.547 orang dari total penduduk sebanyak 2,2 juta jiwa.
Pemerintah bisa saja mengkalim angka kemiskinanya turun dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, kondisi ekonomi yang labil mengakibatkan banyak orang kehilangan pekerjaan. Ditambah banyaknya alih fungsi lahan, para petani pun kehilangan pendapatan.
Gotong royong adalah solusinya. Namun, kebersamaan ini mulai tergerus oleh budaya kota. Maka perlu ada usaha dari pemerintah atau orang-orang yang berpengaruh untuk menggerakan massa, melakukan sesuatu yang positif dan produktif. Seperti halnya yang dilakukan Letkol Arm Imam Haryadi. Jika Bupati, Camat, Lurah,Dandim, Danramail, Kapolres, Kapolsek, melakukan itu, maka kekuasaan yang mereka miliki menjadi kekuasaan yang menolong. Kaum papa pun menjadi merasa memiliki "ayah" yang akan membantu menyelesaikan kesulitannya. (*)
Sorot, Bandung, Sabtu, 14 November 2015