Friday, September 27, 2013

Karena Mencintai Dul


OBROLAN anak laki-laki bungsu musisi Ahmad Dhani, Abdul Qodir Jaelani alias Dul, mengantarkan pacarnya ke Bogor, Jawa Barat, pulang pada Sabtu (7/9), dan berakhir dengan cerita tragis, tak hanya menjadi obrolan ibu-ibu di warung sayur. Tapi, sehari setelah kejadian itu, cerita itu juga mampir ke teras Masjid As-Shiddiq, Ujungberung.

Kajian tafsir Quran selepas salat suhuh bertambah panjang. Tema kecelakaan yang menimpa Dul di kilometer 8 Tol Jagorawi, arah ke Jakarta, saat mengendarasi mobil Mitsubishi Lancer Evo X dengan kecepatan tinggi, lalu oleng dan menabrak pembatas jalan hingga menyeberang ke jalan sampingnya, tiba-tiba muncul. Apa menariknya? Karena kecelakaan itu mengakibatkan enam orang meninggal dunia dan sembilan orang dirawat di rumah sakit.

Mereka tak cukup mengerti mengapa anak baru berusia 13 tahun dengan leluasa keluar rumah membawa mobil dan bebas kencan dengan kekasihnya. Usia yang setara dengan pelajar SMP kelas satu. Bagi kebanyakan orangtua, anak seusia itu sangat tidak lazim untuk melakukan kencan. Meskipun memang ada banyak survei yang menyebutkan banyak anak-anak remaja telah terjebak pada pegaulan seks bebas.

Keheranan itu terjawab dengan adanya konfirmasi keluarga Dhani yang menyebutkan pihak keluarga tidak pernah mengizinkan Dul keluar rumah membawa mobil sendiri. Tapi, pada malam nahas itu, sang sopir yang biasa mengantarkan Dul sedang libur.

Tapi, diskusi pagi itu tetap saja tidak membenarkan alasan tersebut. "Ah bisa saja itu alibi keluarga," komentar jemaah salat Subuh. "Itu alasan agar Dul atau Dhani bebas dari jeratan hukum."

Seperti diketahui, belakangan Dul dijerat dengan Pasal 310 UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Statusnya pun menjadi tersangka.

Sang Ustaz memberi prespektif lain soal bagaimana Dhani memperlakukan anaknya seteleh bercerai dengan Maiya Estianti, ibu kandung Dul. Menurutnya, setiap orangtua yang hidup dengan gelimang harta, sangat mudah terjebak untuk memberi banyak fasilitas kepada anak-anak. Terlebih waktu yang disediakan orangtua, ayah atau ibu, untuk anak-anak sangat sedikit. Bahkan untuk sekadar bertanya sudah salat atau belum, sudah makan atau belum, PR sudah dikerjarakan atau belum pun tak ada. Orang tua dengan aktivias padat di luar rumah lebih banyak menjanjikan hadiah ketimbang mengajarkan salat atau bersedekah. "Barangkali itu bentuk kasih sayang, atau kompensasi karena tidak bisa bersama dengan anak-anak. Dan ketika kita dalam posisi seperti Dhani, punya banyak harta, bisa saja kita akan melakukan itu, karena ingin membahagiakan anak."

Sang Ustaz tidak sedang membela Dhani, tapi melihat kenyataan bahwa manusia lebih mencintai dunia, harta, istri, anak-anak, jabatan, ketimbang mencintai Allah SWT. Buktinya, banyak anak bukati, wali kota, gubernur, dan bahkan menteri, berpilaku sama seperti anak Dhani. Artinya, orang miskin tak perlu heran dengan yang demikian, karena fitrah orang memiliki jabatan dan berlimlah harta akan cenderung demikian. Mengapa banyak orang melakukan korupsi? Satu dari sekian banyak alasan, bisa jadi karena anak. Mereka ingin membahagiakan anak dengan banyak harta. Atau ketakutan anak akan hidup sengsara kelah kalau tak punya banyak harta.
Mereka yang istikomah menempatkan cinta dunia setelah cinta kepada yang pemipik jiwa, hanyalah sebagian kecil. Tidak banyak jumlahnya.

Soal cinta yang berlebihan pada anak-anak, Allah SWT telah mengingatkan kita dalam peristiwa nabi Ibrahim dan anaknya Ismail. Allah SWT memerintahkan Ibrahim menyembelih Ismail. Padahal, Ibrahim sedang sangat bergembira setelah beratus tahun menunggu kelahiran sang anak. Allah SWT kemudian menggantinya dengan seekor domba, karena ketaan keduanya atas perintah Allah. Peristiwa itu bisa dimaknai bahwa Allah SWT tak menginginkan manusia terlena dengan yang dimilikinya dan melupakan Tuhan. Karena yang demikian akan membawa dalam kesesatan. Allah sebaik-sebaiknya tempat untuk kembali. (*)

Wali Kota Sejati


Menjadi wali kota? Mengapa tidak. Anda boleh-boleh saja menjadi wali kota. Bahkan banyak orang mengidamkannya. Menjadi wali kota juga bukan pekerjaan dosa, tetapi mulia. Balasannya adalah syurga, karena amanah adalah tiketnya.

Warga Kota Bandung akan memilih wali kota, pemimpin mereka selama lima tahun ke depan. Sejumlah pasangan telah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung. Siapa mereka? Ada delapan pasangan, Wawan Dewanta-Sayogo (independen), Wahyudin Karnadinata- Tonny Apriliani (independen), Budi Setiawan-Rizal Firdaus (independen), Bambang Setiadi- Alex Tahsin (independen), Edi Siswadi -Erwan Setiawan, Iswara-Asep Deddy, Ayi Vivananda- Nani Rosada, dan Ridwan Kamil-Oded M Danial.

Anda menginginkan wali kota yang seumpama dengan siapa? Kalau saya inginnya Kota Bandung nanti dimpimpin wali kota yang watak dan kinerjanya seumpama Salman Al Farizi, wali kota sebuah darah di Madinah, yang juga sahabat rasulullah Muhammad SAW.

Tentu saya punya alasan. Alasan yang amat mendasar dan jarang sekali dilakukan oleh para pemimpin di era modern ini, yakni tanggung jawab dan amanah. Sebuah kisah menceritakan, Salman akhirnya menerima jabatan wali kota setelah merenung lama. Ia menerima jabatan itu, tapi menolak menerima gajinya. Lalu dari mana dia menghidupi diri dan keluaranya? Tanpa rasa malu, dia menganyam daun pohon kurma untuk dibuat bakul atau keranjang. Lalu dijualnya seharga tiga dirham. Satu dirham dibelanjakan kembali untuk modal, satu dirham untuk menghidupi keluarganya, dan satu dirham lainnya disedekahkan. Cara berpakainnya pun sederhana. Demikian dengan rumahnya. Malah, ketika membangun rumah ia meminta kepada tukang batu untuk membangun sederhana saja.

"Tolong untuk membangun rumah saya jangan terlalu mewah, cukup yang sederhana saja," pesan Salman kepada tukang batunya.

Lalu bagaiaman dia memimpin rakyatnya? Dia memimpin dengan tauladan. Suatu ketika, ia menjumpai seorang laki-laki Suriah membawa sepikul buah Tin dan Kurma. Barang-barang itu terlalu berat untuk dipikulnya sendiri. Orang itu melihat ada laki-laki yang tampak seperti warga biasa dan berniat meminta bantuannya untuk memikul barang-barangnya.

Tanpa banyak bicara Salman langsung mengangkat dan berjalan bersama di tengah keramaian. Di perjalanan, dia menjumpai sekelompok orang dan memberi salam. Mendengar jawaban dari banyak orang, orang Suariah itu kebingungan. Sampai dia akhirnya mengetahui kalau orang yang mengangkat sepikul Kurma itu adalah seorang Amir di Madinah, dari orang-orang yang meminta menggantikan tugasnya mengangkat sepikul Kurma. Laki-laki Suriah itu gugup dan meminta maaf. Tapi, Salman tetap mengantarnya hingga sampai tujuan.

Apakah wali kota Bandung nanti akan seperti Salman? Ongkos politik untuk merebut menjadi penguasa Kota Bandung tidak murah. Mereka butuh ongkos untuk membuat sepanduk, membayar tim sukses dan pendukung, ongkos kampanye, ongkos mondar-mandir di sejumlah kegiatan warga, ongkos menjamu relasi, dan banyak ongkos lain yang akan menguras harta kekayaan. Akal sehat mengatakan sulit mendapati yang sedemikian lurus mengingat ongkos politik yang begitu bejibun besarnya.

Silakan saja mengambil hak gaji dan tunjangan, tapi uang rakyat jangan. Uang rakyat kembalikan ke rakyat untuk perbaikan jalan, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan fasilitas publik lainnya. Sebagai warga Kota Bandung saya tetap yakin akan ada pemimpin yang amanah dan mengesampingkan kepentingan pribadi dan keluarganya. Karena saya yakin mereka tidak ingin dicap sebagai wali kota gagal yang tak bisa membereskan kemacetan, semrawutnya pedagang kaki lima (PKL), dan pengembang nakal yang membangun di daerah resapan air dan kawasan terlarang. Rakyat akan membantu dan tatat kepada wali kota yang benar-benar bersih dan ingin melayani rakyatnya, bukan menjadi raja. Karena yang demikian adalah wali kota sejati. (*)

Selasa, 19 Maret 2013, 5:42:56 sore

Sunday, May 19, 2013

Caleg Ngapusi, Coret!

Berapa biaya menjadi seorang anggota dewan yang terhormat? Anda jangan melonggo kalau ternyata ongkos menjadi wakil rakyat bisa mencapai Rp 1 miliar. Itu biaya paling minim bagi mereka yang hendak menjadi wakil rakyat di pusat, DPR.

Ongkos untuk anggota dewan di daerah besarannya variatif, mulai dari Rp 300 juta sampai Rp 500 juta. Bahkan bagi mereka yang rajin melakukan kegiatan di lapangan, ongkosnya bisa lebih besar lagi. Anda yang rakyat kebanyakan tidak usah melongo. Bagi mereka uang bukan perkara yang sulit. Kalaupun harta kekayaan tidak cukup, demi menjadi wakil rakyat mereka bakal rela berutang ke sana ke mari.

Memangnya untuk apa uang sebanyak itu? Banyak kegiatan yang memerlukan biaya tinggi, di antaranya melakukan kunjungan ke daerah yang diwakili, sosialisasi, ongkos kegiatan sosial, biaya kampanye, dan yang paling banyak menyedot uang adalah membayar saksi di tiap tempat pemungutan suara (TPS) ketika pemilihan berlangsung.

Wakil Bendahara Umum Partai Golkar yang juga anggota DPR Bambang Soesatyo menyebut ongkos saksi kisaran Rp 50 ribu hingga Rp 100.000. Kalau dalam satu daerah pemilihan ada 5.000 sampai 10.000 TPS, berapa banyak uang yang harus disediakan oleh seorang calon anggota legislatif (caleg)? Silakan Anda hitung sendiri.

Di Indonesia, operasional partai memang belum bisa mandiri. Hampir semua ongkos kegiatan operasionalnya dibiayai oleh negera dan anggotanya, termasuk mereka yang mewakili Anda di gedung dewan. Karena tidak mandiri, maka para anggota dewan rawan melakukan penyimpangan.

Untuk apa? Untuk membantu keuangan partai dan mengembalikan ongkos politik yang membuat Anda melongo itu. Orang alim yang beruntung menjadi wakil rakyat kemudian menjadi koruptor bukan sesuatu yang rahasia. Anda bahkan bisa jadi sulit menghitung berapa banyak anggota dewan yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena tersandung kasus korupsi.

Sekadar mengingatkan, KPK pernah menetapkan anggota DPR karena dugaan penyimpangan proyek pengadaan Al Quran di tahun 2012. Di tahun yang sama, KPK juga menjadikan mantan puteri Indonesia yang juga anggota DPR menjadi tersangka proyek wisam atlet SEA Games di Sumatera Selatan dan poyek di Kemendikbud. Kasus ini kemudian menyeret banyak anggota dewan menjadi tersangka, termasuk ketua partai penguasa negeri ini. Belakangan yang paling mengejutkan ada presiden partai yang juga anggota DPR ditangkap KPK karena tersangkut kasus dugaan suap impor daging. Berita penangkapan presiden partai berasas Islam ini mengejutkan karena sama sekali tak terprediski. Anda bisa jadi marah karena sangat berharap beliau bisa banyak melakukan perubahan di tengah-tengah banyaknya isu korupsi. Nyatanya?

Wakil rakyat di daerah yang kemudian berlabel narapidana juga tidak sedikit. Kalau ditelusuri, relasi antara biaya politik tinggi dan penyimpangan di gedung dewan mungkin akan ketemu.
Di laman tempo.co, Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute Hanta Yuda menyatakan, tingginya biaya politik Pemilu 2014 bakal berdampak pada korupsi politik di Indonesia. Ongkos politik, kata Hanta, wajib dibatasi dan dipantau oleh pemerintah.

"Banyak motif yang melatarbelakangi calon anggota legislatif mau menggelontorkan uangnya. Mereka paham partai butuh uang banyak," ujar Hanta.Menurutnya, tidak sedikit dari caleg yang berharap uangnya kembali. Ada juga yang ingin mendapatkan akses lebih atas kekuasaan dan status sosial.

Sekarang kita pun sudah amat sulit menemukan baliho, spanduk, atau poster caleg, yang mencantumkan slogan "Jujur, Bersih, dan Amanah." Paling banter menuliskan, "Bekerja untuk Rakyat."

Lalu, apakah tidak ada caleg jujur dan bersih? Tentu saja masih ada. Tapi jumlahnya tidak banyak karena harus bersaing dengan banyak caleg yang punya ongkos politik tinggi. KPK telah banyak memberi pelajaran. Memilih memang tidak mudah, butuh usaha keras untuk menguliti mereka jika tak ingin salah memlih. Jika Anda tak melihat ada niat baik menjadi wakil rakyat, Anda tahu cara menghukumnya. Coret!



Sekolah yang Memerdekakan

Pelajar sekolah dasar belajar di halaman sekolah  


SEORANG lelaki tua dengan kondisi kesehatan yang buruk mengucapkan terima kasih berulang- ulang kepada rekan saya yang seorang jurnalis. Padahal, rekan saya tak banyak berjasa untuknya. Ketika itu, dia hanya menyambangi sebuah sekolah yang meminta anaknya pulang dan tidak diperkenankan mengikuti Ujian Nasional (UN) gara-gara iuran sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) nunggak beberapa bulan. Dia menanyakan sebab pelarangan mengikuti UN dan mengapa pihak sekolah tidak memberikan kelonggaran kepada murid yang mengalami kesulitan keuangan. Padahal, keluarga lelaki tua itu memang layak dibantu. Rumahnya hanya rumah sewaan. Satu kamar dipakai ramai-ramai, termasuk berisi perabot keluarga. Lelaki tua itu tak bisa bekerja karena lama sakit-sakitan. Istrinya hanya buruh mencuci pakaian tetangga. Dan anak-anaknya belum ada yang bisa diandalkan untuk membantu ekonomi keluarga.

Rupanya, setelah cerita ada pelajar dilarang mengikuti UN meluas ke masyarakat, pihak sekolah menyambangi anak didiknya. Mereka berdamai dan meminta Si Miskin kembali ke bangku sekolah. Yah, meskipun dengan beralasan di sekolahnya banyak keluarga dengan kondisi ekonomi serupa yang juga perlu dibantu.

Si Miskin mejadi riang. Mimpinya yang hampir saja mati seolah mendapatkan siraman air. Ia membayangkan, ijazahnya akan membantu mengakhiri kemiskinan keluarganya. Angin syurga kembali berembus. Beberapa hari setelah kembali ke sekolah, ada sebuah keluarga yang bersedia membantu biaya melajutkan pendidikan yang lebih tinggi. Seandainya Si Miskin gagal mengikuti UN gara-gara SPP nunggak, maka ia dan keluarganya tetap akan hidup di bawah garis kemiskinan.

Peristiwa beberapa tahun lalu itu, kemarin terulang kembali. Kemarin Forum Orangtua Siswa (Fortusis) Kota Bandung mendapat banyak aduan orangtua murid yang anaknya terancam tidak bisa mengikuti UN karena belum memegang kartu peserta UN. Gara-granya? Siswa belum membayar uang SPP. Padahal, pelaksanaan UN dengan uang SPP secara langsung tidak berkaitan. UN diselenggarakan secara gratis. Bahkan, penyelenggaraan latihan mengerjakan soal UN sekalipun tidak diperbolehkan menarik pungutan karena akan memberatkan orangtua siswa.

Pada sebuah kesempatan, Irjen Kemendikbud RI, Haryono Umar, mengatakan kebijakan UN gratis masih berlaku. Untuk tahun 2013, pemerintah menganggarkan dana untuk penyelenggaraan UN sebanyak Rp 600 miliar, belum lagi bantuan dari pemerintah daerah. Maka, kalau ada pihak sekolah memungut biaya UN, apakah itu dengan modus uang bensin pengawas, konsumsi penjaga, dan dana kebersihan, orangtua siswa bisa mengkritisinya.

Tentu saja termasuk soal pelarangan karena belum membayar SPP. Pernyataan Umar cukup menjadi alasan orang tua meminta hak anaknya untuk tetap mengikuti UN karena biayanya ditanggung negara, bukan dari SPP. Apalagi untuk pelajar dari keluarga miskin. Tidak elok kiranya, pihak sekolah menakut-nakuti siswa dengan menahan kartu ujian jika belum membayar SPP. Selain bisa jadi karena memang belum ada uang, pihak sekolah mestinya mendukung siswanya agar fokus mempersiapkan diri mengikuti UN, tidak dihadapkan pada masalah yang akan mengganggu konsentrasinya.

Jika nilai UN jeblok dan dinyatakan tidak lulus UN, maka akan merugikan pelajar. Demikian dengan pihak sekolah, karena masyarakat bisa bekesimpulan sekolah gagal mencerdasakan muridnya. Jika anak terguncang jiwanya, maka ia akan mengurung diri, malu, dan merasa tidak berguna. UN persamaan (ujian paket C) atau mengulang tahun berikutnya sulit mengembalikan kepercayaan dirinya. Jika ini terjadi, maka sekolah turut andil menciptakan generasi yang lemah, rentan terjebak pada lingkungan yang buruk, dan mematikan cita-citanya. Anda pasti masih ingat banyaknya pelajar yang jiwanya terguncang dan melakukan bunuh diri karena malu tidak lulus UN. Apakah Anda tidak trenyuh mendapati berita demikian?

Ada baiknya, pihak sekolah bisa memahami dan memberi kelonggaran bari mereka yang benar- benar belum bisa melunasi tunggakan SPP. UN adalah syarat utama bagi mereka mendapatkan ijazah. Meskipun tak menjadi jaminan akan memperbaiki kehidupan seseorang, ijazah menjadi impian pada pelajar meniti masa depan dengan lebih leluasa, mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan. Sekolah bukan penjara, tapi tempat yang mencerdasakan dan memerdekakan. (*)

Wednesday, October 21, 2009

Taksi Stop


Satu Shelter Tiap 200 Meter

Kemacetan di kawasan Bukit Damansara, pinggiran Kota Kuala Lumpur, baru saja dimulai. Deretan panjang kendaraan roda empat itu terjadi sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Saya dan beberapa kawan dari Indonesia mulai cemas. Kami akan mengurungkan niat pergi ke Bangsar Village, sebuah kawasan pertokoan dan restoran di Kuala Lumpur, jika kemacetan menjadi-jadi.

“Jangan-jangan sama seperti di Jakarta atau Bandung, kalau macet bisa berjam-jam,” kata Indah Dian Novita (25), asal Jakarta.

Kami menunggu beberapa saat, berharap kemacetan segera mencair. Ahhh, lega. Ternyata, kemacetan hanya terjadi sesaat. Tak lebih dari 30 menit.

Kami mulai mencari transpotrasi umum yang melaju ke Bangsar Village. Gaz Gazali (31), pria asal Malaysia bagian Serawak menyarankan kami untuk naik taksi. Di kawasan Bukit Damansara, taksi menjadi transportasi umum utama. Sebenarnya ada pilihan lain, Rapid KL (semacam bus kota atau Trans Metro Bandung di Kota Bandung). Tapi di kawasan tempat kami menginap, Rapid KL tidak banyak. Alasannya, mungkin karena hampir semua keluarga di sini memiliki mobil sendiri.

Kami memutuskan menggunakan taksi. Aneh. Semua taksi melaju kencang. Mereka tak berhenti meskipun kami berulang-ulang mengibaskan telapak tangan. Gaz—sapaan akrab Gazali, mulai mentertawakan cara kami menghentikan taksi.

”Taksi tak akan berhenti, kecuali di taksi stop (halte/shelter),” kata Gaz.

Saya dan Dian pun tertawa. Kami tidak sadar, bumi yang kami pijak bukanlah Bandung. Bukan pula Jakarta. Gaz mengajak kami berjalan menyusuri tepian Jalan Semantan. Tidak jauh. Mungkin sekitar 50 meter dari tempat semula, kami menemukan sebuah shelter taksi. Tempat yang amat jarang di temukan di Kota Bandung.

Orang Malaysia menyebutnya Teksi Stop (pemberhentian taksi). Tempatnya luas. Panjangnya kira-kira 6 meter. Di sana ada tempat duduk berupa pipa besi dilapisi cat anti karat yang ditanam ke tanah. Di depannya, ada pipa besi berukuran serupa sebagai pengaman atau tempat menyandarakan tangan saat seseorang berdiri menunggu kedatangan taksi. Penunggu taksi juga tak akan kehujanan jika musim hujan mulai tiba. Atap dari plat cukup nyaman untuk berteduh.

Meskipun ada shelter taksi, kendaraan yang melaju di depannya tidak ada terganggu. Apalagi sampai menimbulkan kemacetan besar seperti yang sering terlihat di Jalan Soekarno-Hatta, Jalan Dago, Jalan Merdeka dan sejumlah jalan lain di Kota Bandung. Shelter taksi di sini didisain berbeda dengan shelter-shelter di Kota Bandung. Jarak antara shelter dan badan diberi jarak beberapa meter untuk parkir taksi. Dengan demikian ketika taksi berhenti posisinya tidak di badan jalan, melainkan berada di area khusus yang diberi tanda ”Taksi Stop.”

Selain tong sampah dan telepon koin, saya tidak menemukan perabot lain yang menjadikan shelter nampak kumuh. Kalau di Bandung, tempat sebagus itu pasti digunakan untuk berdagang, kalau bukan koran mungkin vouher handphone. Atau, makanan ringan. Kalau ingin bukti, cobalah tengok beberapa shelter angkutan kota di dekat terminal bus Leuwipanjang atau di Jalan Dago.

Dua buah taksi menghampiri kami. Beberapa saat kemudian taksi melaju dan sampailah di Bangsar Village. Di sepanjang jalan, saya menemukan banyak shelter taksi dan Rapid KL. Saya penasaran, tiap berapa meter masyarakat Malaysia dapat menemukan taksi atau bus stop.

”Mereka sangat mudah menemukannya, kira-kira tiap 200 meter ada satu taksi atau bus stop, bahkan ada yang sangat dekat,” jawab Gaz.

Kemudahaan yang disediakan oleh Dewan Bandaraya Kula Lumpur (pemerintah kota) dengan menyediakan fasilitas pemberhentian transportasi umum menjadikan mayarakat tertib. Mereka tidak menunggu taksi atau bus di sembarang jalan. Mereka juga tidak membuang sampah sembarangan karena di sekitar shelter dilengkapi dengan tong sampah. Prilaku tertib juga mulai dilakukan oleh para sopir taksi. Mereka akan membiarkan orang-orang yang menunggu taksi di luar pemberhentian taksi.
Yang juga menarik, semua fasilitas itu terpelihara dengan baik.

”Pemerintah sudah memberikan kemudahan, kalau dirusak akan menyulitkan mereka sendiri,” tambah Gaz.

Di kesempatan lain, saya bersama beberapa kawan dari Indonesia mecoba menaiki transportasi umum Rapid KL. Kami melakukan itu sepulang kongkow di kawasan Cina Town di Kuala Lumpur.

Banyak hal yang menarik. Selain tampilan bus-nya bagus, tempat duduknya pun empuk. Semua Rapid KL dilengkapi dengan AC. Penumpang tidak perlu berteriak ”kiri bang” ketika sudah mendekati tujuan. Penumpang cukup memencet tombol yang tersedia di beberapa sudut di dalam bus. Sopir akan mendengar pekikan suara dan menghentikan laju Rapil KL di sebuah pemberhentian bus.

Sepanjang jalan, saya tidak melihat sopir bus menghentikan laju bus-nya di sembarang tempat untuk mengangkut penumpang. Demikian sebaliknya, tak ada penumpang yang meminta berhenti di sembarang tempat. Bagaimana dengan bus kota atau TMB di Kota Bandung? Silahkan anda lihat sendiri. Ketidaktertiban berlalu lintas inilah yang mungkin menjadi penyokong terjadinya kemacetan. Apalagi ukuran bus kota atau TMB jauh lebih besar dibandingkan dengan kendaraan lain.

Jumaahtul Abdul Gani (31), seorang kawan tinggal di Selangor, sekitar 20 kilometer dari KL, menambahkan banyak informasi tentang transportasi umum. Katanya, ada beberapa jenis transportasi umum, taksi, Rapid KL dan monorel. Ketiganya digunakan sesuai dengan kepentingan masyarakat. Jika ingin murah dan tak diburu pekerjaan, masyarakat lebih suka menggunakan bus.

Seperti yang dikatakan Gaz, di Kuala Lumpur banyak ditemukan pemberhentian bus dan taksi. Terutama berada di tempat-tempat ramai seperti mal, perkantoran dan kawasan perumahan rakyat.

Dari sekian banyak sopir, kata Jum, ada di antaranya yang ugal-ugalan, menyetir dengan kecepatan tinggi. Namun, pada umumnya mereka tetap tidak melayani penumpang di yang menunggu di sembarang temapat.

”Kerajaan berusaha keras melakukan kampanye agar masyarakat mengendarai mobil lebih hati-hati, untuk menghindai kecelakaan. Setiap hari banyak polisi di jalan. Di beberapa tempat ada menara yang digunakan polisi untuk mengamati jalan. Pelanggar lalu lintas akan diambil gamar, lalu dikirim ke police traffic untuk didenda,” katanya.

Untuk masalah kemacetan, pemerintah kota telah berupaya melakukan kampanye untuk berkongsi mobil. Namun, kampanye itu tidak mendapat respon baik. Bisa dikatakan, setiap orang membawa mobil sendiri untuk melakukan aktivitas bekerja.

Pemerintah tidak berhenti sampai di sana. Cara lain yang dilakukan untuk mengatasi kemacetan adalah memperbaiki fasilitas transportasi publik agar menjadi lebih efisien dan menarik perhatian masyarakat untuk memakai transportasi massa. Semisal dengan menambahkan jaringan kereta api dalam kota menuju ke wilayah-wilayah pinggiran yang sulit dijangkau dengan transportasi umum. (kisdiantoro)

Thursday, October 8, 2009

Hantu Dilema

SELASA (6/11/2009), hari pertama kami, para peserta International Journalism Fellowship (IFJ) 2009 yang diselenggarakan oleh Malaysian Press Institute (MPI), mulai menggali ilmu jurnalistik dari orang-orang yang dalam biografinya berderet pengalaman menakjubkan dalam berbagai peliputan dan pelatihan jurnalistik level internasional.

Tentu kami sangat gembira. Harapan kami, pengetahuan jurnalistik kami semakin luas dan terasah. Pelajaran dari mereka akan sangat berguna bagi profesi kami ketika rutinitas meliput kembali memanggil.

Datuk Ahmad A Talib, Direktur Eksekutif Berita Media Prima, kelompok New Strith Time Press (NSTP), memuali kelas dengan banyak pertanyaan mengapa para peserta International Journalism Fellowship (IFJ) 2009 yang diselenggarakan oleh Malaysian Press Institute (MPI) memilih profesi wartawan. Dia tidak yakin bahwa semua calon wartawan ketika diwawancara untuk pertama kali oleh sebuah perusahaan penerbitan memberikan alasan karena mencintai dunia tulis menulis. Jujur saya juga sependapat. Saya memilih profesi ini, pada awalnya karena alasan kebutuhan. Saya butuh pekerjaan dan butuh penghasilan. Saya butuh makan untuk mempertahankan hidup. Tan Su Lin, pewarta Radio Bernama 24 asal Malaysia pun menjawab dengan jujur. Dia sebenarnya sama sekali tidak memiliki latar belakang seorang jurnalis, karena dia adalah lulusan Jurusan Fisika di sebuah kampus di Malaysia. Tapi, untungnya dia suka dengan tantangan dan petualangan. Profesinya pun bisa dijalani dengan baik.


Rupanya, A Talib hendak menghubungan pertanyaan tersebut dengan kondisi dilema yang akan muncul ketika seorang wartawan menjalani profesinya. Kondisi dilema akan menghadang pada setiap wartawan yang memiliki kredibelitas dan integritas yang baik. Tentu tidak dengan wartawan yang hanya menjalankan perintah, tanpa mencoba membuat analisis kecil terhadap pemberitaan yang dibuat. Meskipun hanya sekali. Kesimpulan yang saya tangkap dari kalimat dan gerak tangannya, A Talib, menilai wartawan dengan tipe tersebut hanya akan menjadi alat kepentingan pihak perusahaan dan pada suatu saat nasibnya bisa mejadi tidak jelas.

“Tiga atau empat tahun, pergi kau!”


Kondisi dilema yang akan menghampiri seorang wartawan bisa jadi berupa permasalahan yang menyangkut dirinya sendiri. Semisal masalah pendapatan yang tidak sesuai dengan beban pekerjaan atau masalah pilihan pekerjaan lain. Apakah seorang wartawan merasa yakin bahwa profesi meliput, mewawancarai nara sumber, memotret lalau merekontruksinya dalam sebuah naskah berita untuk diterbitkan adalah sebuah profesi yang akan dijalani sebagai sandaran hidup? Pertanyaan seperti ini sering berkecamuk dalam diri seorang wartawan.

Namun, kata A Talib, kondisi tersebut adalah wajar. Lebih jauh dari itu, seorang wartawan akan sering dihadapkan pada banyak kondisi dilemma ketika melakukan peliputan di lapangan. Idealisme dan kemampuan analisisnya akan diuji dengan berbagai gempuran kepentingan.


Saya sangat sependapat dengan dia. Sebelum menuliskan sebuah berita, di belakang seorang wartawan ada berdiri banyak pandangan yang kekuataanya cukup besar dan bepengaruh terhadap tulisan seorang wartawan. Pertama, kekuatan pemilik perusahaan. Seorang wartawan harus menyadari bahwa dirinya bekerja pada sebuah perusahaan, apakah perusahaan penerbitan atau perusahaan penyiaran. Dengan demikian dia juga seorang pegawai yang tunduk dengan aturan perusahaan. Artinya, pemilih perusahaan memiliki kuasa atau kekuatan untuk melakukan campur tangan (intervensi) terhadap pekerjaan seorang wartawan. Semisal ketika sebuah pemberitaan yang ditulis seorang wartawan berkaitan dengan kepentingan para kolega pimpinan perusahaan, jika berita tersebut berupa keburukan, maka ada kemungkinan pimpinan perusahaan akan meminta untuk tidak menerbitkan. Jika hal tersebut terjadi, bagaimana anda menghindarkan intervensi pihak perusahaan agar tulisan anda bisa mengalir dan objektif? Ini adalah kondisi dilema bagi wartawan.


Baiklah kawan, kita bahas lebih jauh lagi. Selain bos anda, di belakang anda, masih ada bagian-bagian lain yang memiliki kepentingan besar untuk menopang keberlangsungan perusahaan anda. Misalanya, Departemen Iklan dan Sirkulasi. Dua departemen ini memiliki peran signifikan untuk menghidupi perusahaan yang pada akhirnya berdampak pada tingkat kesejahteraan wartawan.

”Anda akan merasa dilema ketika departemen lain meminta bantuan anda untuk meliput atau meminya untuk tidak menuliskan sesuatu,” katanya.


Ingat! Sebelum kembali ke kantor untuk menuliskan semua cerita yang anda dapat di lapangan, anda telah bertemu dengan begitu banyak orang. Sebut saja jumlah orang yang menggantungkan nasibnya terhadap pemberitaan yang anda tulis sekitar 23.000 jiwa. (Contoh, berita tentang penggusuran jalan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap rumah-rumah rakyat tanpa ada kompensasi yang sepadan). Ini juga termasuk kondisi dilema yang akan menghantui seorang wartawan.


Pertanyaannya, jika seorang wartawan dihadapkan pada tiga konsisi dilema itu, seharusnya seorang wartawan berdiri atau memihak pada pilihan yang mana? Anda harus berdiri di belakang siapa? Di belakang kepentingan bos, Departemen Iklan dan Sirkulasi atau 23.000 jiwa yang berteriak meminta pertolongan anda? Etika pribadi atau etika moral akan menjawab, anda harus berdiri dibalik kepentingan masyarakat.


Tentu dalam praktiknya tidak semua kondisi dilema dapat diselesaikan dengan mulus. Maka, seorang wartawan harus memiliki kemampuan untuk menguasai dirinya. Akan jauh lebih baik jika dia juga memiliki kesadaran beragama yang baik. Alasanya saya kira cukup baik. Seorang wartawan memiliki tugas yang berat untuk mengubah kehidupan masyarakat dan mengontrol kebijakan pemerintah agar berjalan di dalam rel-nya.

“Kalau anda tidak bisa mengubah diri anda, apa anda bisa mengubah masyarakat. Jika tidak bisa melakukan, cobalah bepikir ulang untuk melakukan tugas besar mengubah kehidupan masyarakat,” tutur A Talib. ”Jangan menjadi redaktur (editor) kalau anda tidak memiliki semangat yang besar, atau tidak memiliki mental yang baik. Departemen redaksi tidak boleh melakukan kesalahan ataupun berbuat dosa.”


Di akhir diskusi, saya tidak menemukan solusi yang gamblang ketika seorang wartawan dihadapkan pada kondisi dilema. A Talib hanya memberikan gambaran bahwa dalam sebuah usaha pemberitan harus menjaga keseimbangan antara comercial content dengan intelectual content. Maka, seorang wartawan bisa menetukan sikap sendiri kapan dia harus berdiri di balik kepentingan perusahaan atau harus meninggalkannya karena ada banyak orang yang membutuhkan pertolongannya.


Tuesday, 6, 2009

Internation Fellowship Journalism 2009

Malaysian Press Institute

Friday, August 15, 2008

Si Ayu

"Om Toro, sepedanya mana?"
"Di tinggal di kantor," kataku.

Ayu (7), cucu ibu kosku mengira aku akan pulang dari kantor dengan menaiki sepede ontel. Mungkin karena beberapa jam sebelumnya aku pulang dengan menaiki sepeda ontel. Karena saat itu ia juga sedang bermain-main dengan sepeda mininya, kami pun beradu cepat. Cukup hebat. Ia melaju sangat kencang. Okay, aku kalah cepat dengannya.

Sepertinya ia lagi sangat suka dengan sepeda ontelnya. Bisa jadi karena baru dua hari ini ia berhasil menaruh pantatnya di atas sadel (tempat duduk). Tentu setelah melewati masa usaha yang tidak mudah. Mengatur keseimbangan, mengusir rasa takut sampai melupakan rasa sakit saat terjatuh."Hore aku sudah bisa naik sepeda."

Aku kenal anak ini sejak anak ini baru sekolah Taman Kanak-kanak. Dia pintar dan menyenangkan. Anak seusia itu, ia sudah hafal lagu-lagu orang dewasa. Berani berekspresi. Ia juga pintar berimajinasi lalu menvisualkannya. Berbincang layaknya orang dewasa. Keliancahannya semakin aku ketahui saat ia bersama orangtuanya pindah rumah, bergabung dengan rumah neneknya. Tempatnya masih satu komplek dengan tempat kos-ku.

Dasar anak-anak, kadang sifat menyebalkannya juga muncul. Berkali-kali ia usil dengan melempar sandal kotor ke kamarku. Mendobrak pintu saat aku tidur. Mencubit kulit hingga memerah. Berteriak sampai memekakan telinga. Sebagai orang dewasa, aku tak bisa berbuat banyak keculai mengatakan, "Nggak boleh gitu deck!." Sering berbuat menyebalkan, akhirnya aku tak tahan juga untuk tegas. Saat itu, ia mendobrak pintu kamar, padahal aku sedang tak enak badan. Aku berbegas bangun, secepat kilat aku melangkah menuju rumahnya dengan berpura-pura marah.

"Aku bilangin ke mama nech. Kamu nakal."
"Jangaaaaannnnnn....jangaaaaannnnn..."
Aku kembali ke kamar. Dia kembali menmghampiriku dengan mengulurkan tangan kanan.
"Ya udah, aku minta maaf," katanya.
"Janji ya jangan ulangi lagi."
"Janji."

Dasar anak-anak, sikap menjengkelkan kadang-kadang tetap saja masih ada. Lagi-lagi aku harus bersabar. Tapi, kalau ia lagi baik, kebaikannya juga sangat menyenangkan. Pas lagi haus, kadang layaknya orang dewasa ia mengambilkan air dingin dari balik lemari es. Atau, kadang ia mengambilkan sebagian makanan yang sedang dimasak neneknya.

Aku sangat yakin, jika ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang baik, ia akan menjadi gadis yang cantik, pintar dan memiliki prilaku yang beradab. Aku menjadi khawatir ia akan menjadi manusia dewasa yang tidak punya sopan-santun. Apalagi tahu agama. Khawatir karena ia tumbuh dalam lingkungan yang sempit dan jauh dari sentuhan pendidikan agama. Hampir setiap hari ia bermain sendiri. Maklumlah, hidup di tengah kota. Kebanyakan orang tidak akan berani mengambil resiko berlebih. Maka, tempat berinteraksi sosialnya pun hanya sebatas gerbang rumah. Itu pula, mungkin yang menyebabkan ia sering menggodaku dengan kelakukan menyebalkan. Atau sebalinya, memvisualkan imajinasi berbuat baik seperti tontonan yang ia liat dalam layar kaca.Aku khawatir ia tidak mengenal nilai-nilai manusia sosial, karena khidupan sosialnya tak terpenuhi.

Dan yang paling mengkhawatirkan, ia sering bergaul dengan orang-orang setua ayah dan ibunya. Bila mereka kelompok orang dengan prilaku baik, tidak lah masalah. Sayangnya, mereka adalah para orang dewasa dengan kebiasaan merokok, kongkow, lalu mabuk. Menjadi aneh karena ayah dan ibunya bergabung dalam situwasi itu. Sementara Ayu masih bermain-main di sana.

"Mabuk di hadapan anaknya."

Itu aku ketahui setelah Ayu menyapaku dan memintaku beramin sepeda."Om main sepeda lagi yuk! Eh...lagi pada mabuk, di sana ada botol," kata dia.Aku yakin yang dikatakan bocah itu tidak salah. Alasanku karena apa yang ia visualkan berdasrkan apa yang ia liat. Pernah suatu hari ia menaiki kursi dengan kaki-kaki yang tinggi layaknya kursi di bar. Ia kemudian mendeskripsikan tempat dan kebiasaan orang-orang di bar. Pas aku tanya, dari mana pengetahuan itu ia dapat. "Kan Ayu sering liat, di film-film."Wah...anak seumur dia sudah tahu situwasi di dalam tempat-tempat untuk mabuk.

Anak adalah anugerah Allah SWT, tempat kita meneruskan cita-cita dan garis keturunan. Anak juga merupakan amanah, titipan harta yang paling berharga yang harus dijaga, dirawat dan dididik agar menjadi penyejuk hati. Dalam persoalan ini, kita harus meneladani sikap Nabi Zakaria AS dan Nabi Ibrahim AS. Kedua Nabi ini senantiasa berdoa kepada Allah Maha Pencipta. “Ya Rabbana, anugerahkanlah kepada kami, pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami. Jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74).

Ayu, semoga kelak engkau menjadi orang dewasa yang baik, tidak seperti yang aku khawatirkan. Amin...