Tuesday, July 29, 2008

Pelajaran untuk Tetap Optimistis

BEBERAPA hari ini sungguh aku dalam kegelisahan. Gelisah menjalani kehidupan tanpa ada pergeseran kebaikan, seperti kebaikan yang ditunjukan oleh Tuhan sesembahanku, Allah. Subuhku masih sering telat. Masih sering mendzolimi perut, karena ingin menghemat dan akhinya cacing-caing dalam perutku sakit. Masih suka berprasangka buruk terhadap sesama. Masih suka tak peduli dengan laparnya orang lain. Masih mudah mengumpat. Masih sering terpaksa saat menolong. Masih sulit bersyukur. Masih mudah melupakan nikmat Allah. Masih suka lupa dengan kebaikan orangtua, guru dan teman-teman. Dan aku masih saja begitu.

Dan aku sungguh dalam kegelisaan dalam memikirkan harta. Masih saja bingung memikirkan karir. Dan aku maih gelisah memikirkan jodohku. Aku pun masih sulit menghilangkan kebergantunganku pada manusia. Dan aku masuk dalam kondisi psimistis atas kehidupanku mendatang. Sungguh sebuah kebodohan. Padahal aku tahu, Allah lah tempat bergantung segala sesuatu.

Masih dalam kegelisahan, hari ini aku berbincang dengan pak Athian Ali M Da'i. Dia seorang ulama yang tegas dan bijaksana. Aku berbincang bagaiaman Rasulluah Muhammad SAW, melakukan Isra dan Mi'raj. Sebuah peristiwa pejalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Masjidil Aqsha dan naik ke langit dan kembali ke Mekkah pada saat fajar bersama Malaikat Jibril. Dalam peristiwa ini Nabi Muhammad SAW menerima wahyu tentang ibadah Shalat. Sebuah kisah yang tidak bisa diterima oleh akal manusia terlebih mereka yang tak beriman. Bagi mereka yang beriman, peristiwa itu merupakan tanda-tanda kekuasan Allah.

Kuasa Allah nyata tak terbatas. Tinggal mengucap "kun" saja, maka terjadilah apa yang menjadi ketentuan-Nya. Apapun yang tak mungkin dalam pandangan manusia, mungkin dan mudah dalam pandangan Allah SWT. Sebagaimana begitu mudahnya Dia memperjalankan Rasulullah SAW dari Makkah ke Baitul Maqdis, dari bumi yang fana ini menuju hadirat-Nya : Sidratul Muntaha. Singkat saja waktu perjalanan yang ditempuh oleh Baginda Nabi. Cuma satu malam.Aku diingatkan Pak Athian melalui peristiwa Isra Mi'raj, bahwa ada pelajaran agar manusia tetap optimistis. Kuasa Allah untuk mengubah segala kegelisaan, menghapus masalah yang dirasa manusia mustahil. Dan manusia hendaknya tidak putus asa, karena putus asa dekat dengan kekafiran.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Isra 17:1)

Sungguh Allah maha berkuasa. Tapi, apakah aku ini pantas medapat perhatian Allah dan Dia mau menunjukan kuasanya untuk menghapus segala kegelisahanku. Aku malu. Dan aku masih saja begini. Jauh dari perintah Allah. Saat aku masih berseragam abu-abu, dulu. Pikiranku selalu saja mengatakan, "serasa tidak mungkin aku yang terlahir dari kelurga miskin bisa menyelesaikan kuliah. Serasa tidak mungkin aku yang akan menjadi seorang pekerja bisa memeiliki sepeda motor. Serasa tidak mungkin, aku yang terlahir di kampung bisa sampai di Bandung. Serasa tidak mungkin, aku bisa berbincang dengan orang-orang hebat, orang-orang yang mengabdikan dirinya pada kemuliaan Allah."

Tapi semua itu sudah aku dapatkan. Sungguh kekusaan Allah menjadikan sesuatu yang menurut akal mausia tidak mungkin menjadi mungkin. Begitu banyak nikmat dan pertolongan Allah, tapi aku masih saja belum bisa bersyukur. Begitu banyak rizki yang Allah limpahkan, belum saja aku bersedekah. Begitu banyak kemudahan yang Allah berikan, belum saja aku berbuat baik kepada orang lain.Sungguh aku sudah diperlihatkan dengan begitu banyak kemuliaan dan kekuasaan Allah. Tapi, aku masih saja bingung dan khawatir. Gelisah. Merasa tidak yakin. Lemah. Sungguh Allah tempat bergantung segala sesuatu. Tapi, aku masih saja kebingungan kepada siapa aku harus mengaduh. Aku masih saja bergantung kepada manusia, padahal ia tak berdaya tanpa kuasa Allah. Maafkan aku ya Allah, Tuhan penguasa alam jagad raya.

Sesungguhnya tidak ada yang mustahil jika Engkau menghendakinya. Dan aku mestinya optimistis dengan segala kekhawatiranku, karena Allah maha berkehendak.

Friday, July 25, 2008

Guyon Pilwalkot di Kantor Wartawan

SEJAK hari pertama masa kampanye pemilihan walikota Bandung aku menjadi sering ngomong soal pasangan Trendi (taufikurahman-Deni Triesnahadi alias Abu Syauqi). Maklum kerena tugasku menguntit Trendi. Mereka diusung PKS karena memiliki integritas dan komitmen yang baik untuk memperbaiki kehidupan masyarakat Kota Bandung, termasuk lingkungannya. Itu kata orang PKS. Awalnya aku hanya mengiyakan saja. Karena sebagai penulis koran tentu tak bisa mengira-ira, apalagi mengarang cerita seperti kebiasaan para cerpenis. Ah, tidak.

Faktanya, selama aku menguntit Trendi, mereka emang okay. Taufikurahman yang doktor jebolan kampus di Inggris jadi jaminan kopetensinya dalam mengelola pemerintahan yang baik. Dan sekarang ia menjadi dosen di ITB. Karena dia seorang akdemisi, tentu akan lebih mendengar omongan para ahli dalam proyek pembangunan infrastruktur kota. Itu juga yang ia janjikan. Tidak seperti pendahulunya yang kebanyakan berorientasi pada kepentingan kontraktor. Anda pasti melihat begitu banyak Mall tumbuh di Kota Bandung bukan? Karena lokasinya hanya beberapa meter dari pasar tradisional, maka, tamatlah riwayat pedagang miskin. Meski tak jaminan, aku melihat dia menajdi imam dan khatib sahat Jumat.

Sementara, Abu Syauqi sudah memberikan teladan dengan mendirikan Rumah Zakat Indonesia. Tahu kan? Lembaga yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat dalam program-program pemberdayaannya. So, masih lebih bagus ketimbang dua calon lain, Dada-Ayi dan Hudaya-Nahadi. Maaf bila subjektif. Meski itu faktanya, sebagai penulis saya tetap berusaha tidak terbawa arus, condong pada satu pasangan dan tidak professional dalam peliputan.

Hanya sekadar untuk meramaikan kantor, saya sering bercanda dengan mewacanakan kebaikan-kebaikan pasangan Trendi atau membawa atribut Trendi ke kantor. Timbulah protes-ptotes dari pendukung lain. Tapi itu juga bercanda, guyon.
Tapi, hari kemarin nampaknya serius. Ada pejabat kantorku yang berkomentar dengan muka serius saat kata-kata Trendi berulang-ulang keluar dari mulutku.

"Professional dong. Jangan jelek-jelekin yang lain. Atau kamu dipindah saja."

Hayah kok serius banget seh om. Kalau aku memihak, kan mudah saja dia menghentikannya. Dipangkas atau tak usah diterbikan saja tulisanku. Beres kan? Okay lah, karena dia emang tak punya selera humor. Atau, bisa jadi sedang ada masalah di keluarganya, atau jangan-jangan dia pendukung pasangan lain. Hahahaa.......alasan yang terakhir sepertinya jauh lebih beralasan.

"Iya, dia itu temannya incumbent," kata temanku.
Wowww..patesan, nesu. Jadi yang gak professional siapa? Kalau aku hanya sekadar bercanda, tapi dia malah main emosi (Perasaan).
Sebagai peliput, aku berusaha tidak akan membawa emosi dalam ruang politik. Toch aku tidak akan memilih karena aku tidak ber-KTP Kota Bandung. Itu sikapku sebagai wartawan.
Sikap pribadiku bagaimana? Aku akan memihak. Memihak pada salah satu calon yang memihak rakyat. Tidak hanya sekadar retorika atau omong kosong belaka. Saat ini mungkin perlu ujian, bukti dan teladan. Tapi setidaknya ada harapan baru pada pemimpin baru yang amanah dan memiliki itikad baik mengubur kemiskinan dan pendidikan mahal. Bukan pemimpin lama yang punya banyak pengalaman. Ya, pengalaman. Pengalaman kegagalan membangun Kota Bandung. Jika aku memilih, aku akan memilih Trendi. Hayah....bikin orang nesu saja.

Tuesday, July 15, 2008

Untuk Lelaki di Pojok Desa

SUNGGUH aku merasa amat bahagia, Kang Rastam menikah. Sebuah cita-cita yang lama kami bicarakan. Kapan kita menikah? Dan Tuhan sudah menjawab keinginan kamu dan mbok-mu. Aku pun sangat mengerti betapa gembiranya 'mbok,' saat kamu memutuskan menikah. Karena kamu lah satu-satunya harapan baginya untuk mepersembahkan cucu yang manis. Adalah sang istri yang akan menemaninya memasak nasi. Mengirim makanan ke sawah. Menyapu halaman. Berbagi kisah, atau mengusap kening ketika kerinduan itu membuncah.

Kira-kira lima tahun lalu aku mengenal Kang Rastam. Sungguh ia telah menipuku. Menipuku dengan penampilannya yang sangat sederhana. Tubuhnya kecil. Kulitnya hitam. Rabutnya acak-acakan. Berbicara tidak jelas. Berjalan membungkuk. Semakin menipu karena sandang yang melekat di tubuhnya hampir tak pernah tersentuh strika listrik. Tapi, ia tak pernah memperdulikan itu. Pakaian bersih sudah cukup baginya. Karena penampilan itu, hampir semua temanku meremehkannya. Hampir saja aku terjebak pada penilain luar. Meski orang suka merendahkan, ia tak penah membalasnya dengan makian. Ia hanya diam dan tersenyum lembut.

Engkau tak mengerti. Kang Rastam rupanya memiliki banyak keterampilan. Merakit komputer, memperbaikinya dan menjadikannya lebih baik.Aku tahu dia memang tinggal di ujung desa. Sangat jauh dari kota. Ketika ia beranjak dari ranjang, orang-orang kampung sudah meramaikan pagi. Berpakian sederhana, dengan bekal secukupnya di punggung. Sebuah "tudung" menghiasi tangan. Tangan lain menjinjing peralatan bercocok tanam. Kang Rasta lantas bergabung dengan mereka. Berjalan menyusuri pematang sawah, lalu menyambut pagi dengan kerja keras. Sawah pun menyambut gembira.

Bila tidak, ia akan duduk santai memandang gunung Slamet di kejauhan sana. Segelas kopi dan "teme mendo" menjadi hidangan paling berselera. Tak ada yang berlebihan. Kehidupannya mengalir tanpa beban. Robingah, sang istri, seolah menjadi penyeimbang kehidupan. Kesulitan suaminya ia cukupkan dengan simpangan uang dari sisa pemberian sang suami. Kang Rastam memiliki kehidupannya sendiri. Angka-angka yang kian merusak kehidupan orang kota, tak mengusiknya. Aku kagum dengan kehidupannya. Sungguh aku ingin pulang, dan menemuimu lagi. Aku ingin belajar hidup tanpa ketamakan harta, sederhana yang menyejukan. Hidup tanpa beban dan berbaik sangka dengan sesama. Hidup penuh kasih dan penghormatan pada sesama. Aku berdoa untuk kebaikanmu. Allah akan menolongmu.

“Berinfaklah di jalan Allah dan janganlah kalian campakkan tanganmu ke dalam kehancuran, berbuatlah baik, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik .” (QS Al-Baqarah 195)

“… Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS Al-Baqarah 112).

Saturday, July 5, 2008

Jika Itu Boleh, Aku akan....

PEREMPUAN "iseng" itu kehilangan semangat. Akivitasnya menjadi tak berwarna. Berdiri mematung lalu menjatuhkan badan di sebuah papan. Perlahan kepalanya merendah di atas lipatan tangan. Tak terdengar olehnya suara hentakan keyboard komputer di pojok sana. Sunyi. Hanya sebuah kursi besi agak reot yang sudah beberapa hari ini ikut diam. Masih setia berteman dengan komputer itu. Pria yang biasa duduk di kursi itu pergi untuk beberapa saat.

"Aku ikut."

Aku tersenyum. Bila itu bisa, aku pasti akan menolongmu. Jika itu boleh aku pasti akan mengantarnya. Jika itu tak menyakiti, aku pasti akan membujuknya. Aku sahabatnya, dan aku juga sahabatmu. Sekali lagi jika itu mungkin, aku akan menjadikan kalian seolah bunga di taman yang bercinta dengan kumbang. Tapi tak bisa, meskipun hanya sekadar "ikut." Apalagi pria itu memang sudah merapatkan hatinya pada perempuan lain. Sementara engkau sudah mengiyakan janji setia pria lain.
Sedih karena kehilangan "iseng," sangatlah wajar. Sedih tak tagi bisa bercakap denganya adalah pantas, karena aku pun merasakan itu. Yang tak pantas adalah kehilangan semangat. Karena sesungguhnya perpisahan itu pasti terjadi. Dan sesungguhnya kita yang terlahir sediri akan kembali sendiri.
Aku ingin mengatakan bahwa rasa suka itu adalah wajar. Dan memaksakan orang lain untuk suka akan menyakitkan. Biarkan dia tahu akan keihlasan rasa suka itu. Dan sesungguhnya jika Tuhan menghendaki, tak seorang pun yang mampu menghalanginya.
Tahukan engkau kawan, bahwa hidup hari ini adalah anugrah. Sepantasnya kita mensyukurinya. Menjadikannya bermakna, dan penuh kesan indah. Kamu bisa melakukannya dengan berbagi kebaikan dengan sesama.
Jika kamu ingin tenang, tenteram dan damai maka Sholatlah, karena sesungguhnya Sholat sangatlah cukup untuk hanya sekedar menyirnakan kesedihan dan segala kerisauan jiwa.

(Wahai orang-orang yang berimana, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat) QS. Al-Baqarah : 153.

Setiap kali Rasulullah SAW dirundung kegelisahan, Rasulullah SAW selalu meminta kepada Bilal bin Rabbah "tenangkanlah kami dengan shalat, wahai Bilal".


Dan aku sudah melihatmu melakukan Shalat. Maka, tenangah jiwa yang sedang gelisah lagi bersedih. Aku ucapkan selamat, karena engkau adalah wanita yang sahalat. Maka, berbahagialah.

Friday, July 4, 2008

Sesungguhnya Bersama Kesulitan ada Kemudahan

AKU tak percaya dengan peristiwa yang menimpa sahabat perempuanku. Tapi itu benar terjadi. Perempuan yang baik, lagi taat kepada suaminya telah disia-siakan. Suaminya telah memutuskan tali penikahan itu dengan cara yang kasar. Sungguh keputusan yang tak bisa diterima akal sehat. Apalagi sudah hadir di tengah mereka seorang bayi laki-laki yang lucu. Sungguh laki-laki itu akan menyesal. Menyesal karena telah berpaling dari perempuan beriman, rajin shalat lagi lembut hatinya.
Sesungguhnya, yang aku tahu, perempuan itu begitu setia. Meyakinkan dirinya bahwa laki-laki itu adalah imamnya. Tahukan engkau lelaki, perempuan shalat lagi beriman lebih lembut hatinya ketimbang perempuan yang meninggalkan shalat. Karenanya, ia akan sangat hormat dengan suaminya.
"Gw tahu Tuhan mengujiku karena aku mampu menjalaninya."
Aku bersyukur karena sahabat perempuanku itu bisa memaknai semua ujian yang menimpanya. Aku yakin peristiwa menyakitkan itu adalah ujian bagi orang shaleh. Berusahalah untuk ikhlas, kaerna sesungguhnya ujian ini menjadi ladang amal yang berlimpah.
Kelak anak lelakimu akan bangga karena kerja keras ibunya. Ia akan tahu bahwa engkau telah merawatnya, mendidiknya dan menjadikan lelaki beriman. Ia akan sayang kepadamu. Maka, tunjukanlah dia dengan banyak kebaikan. Ajari untuk taat dengan Allah. Ajari untuk tidak menyakiti orang lain. Ajari untuk bisa ikhlas. Ajari untuk hormat dengan sesama. Mengapa? Karena Tuhan-mu telah menghadirkan seorang guru dalam bentuk yang lain (sumimu), untuk tidak menyakiti orang lain.
Wahai perempuan shaleh, aku hanya ingin mengingatkan, bahwa sesungguhnya bersama kesulitan akan datang kemudahan. Itu janji Allah. Karenanya, aku tak perlu meyakinkanmu, karena engkau adalah perempuan shaleh.

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakan dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (Surat Alam Nasyrah 94)

Aku juga ingin mengatakan bahwa sesungguhnya tetesan air mata itu akan berganti dengan seyum segar (sama banget dengan judul blog aku, www.maskisdian.multiply.com), hujan akan berganti terang, terik matahari akan mengeringkan baju yang basah, dan gelapnya malam akan berakhir dengan datangnya pagi.
Kalau saat ini engkau sedang berjalan di jalan yang menanjak, janganlah bersedih, karena sesungguhynya sesudah itu engkau akan menapaki jalan yang menurun. Maka, bersabarlah.
Karena aku ini lemah, aku memohon kepadamu ya Allah, Jangan pernah tinggalkan aku sedetik pun. Jangan pula Engkau serahkan urusan aku kepadaku meski hanya sedetik, meski hanya setitik, karena sesungguhnya hamba ini lemah. Teramat lemah jika bukan karena kekuatan dari-Mu. Allah, semua urusan bermula dari-Mu, kuserahkan semua itu kembali kepada-Mu, karena aku hanyalah hamba-Mu yang tak memiliki daya upaya dan kekuatan apapun.

Saturday, June 21, 2008

Menjaga Hati........

SEMINGGU belakangan, Lia, adek perempuanku di Bandung pojok utara sana, tangannya terus-terusan pegang batok kepala. "Pusing nech." Ceh ileh pusing, emang napa. Kerjaan kamu selama ini bukannya kuliah, maen trus ngadem di rumah berjam-jam. Kok pusing.Pacar kamu ngambek? Minta putus? Atau pengin cepat-cepat kawin?"Nggak lah. Lia pusing karena seminggu yang lalu ada orang nembak?"Pingsan dong? Bagian mana yang robek kena peluru. Pertanyaan kok gak nyambung pisan seh.

Maksud perempuan ini adalah ia baru saja dapet tawaran seorang pria seumuran untuk jadi pacarnya. Dan yang paling "nggilani" pria itu nggak mau ngerti penjelasan Lia, kalau ia sudah punya gandengan. Ibarat pejuang kemerdekaan '45, ia make semoyan "Rawe-rawe rantas, malang-malang putung, maju terus pantang mundur." Kalau saja waktunya sejaman dengan "Si Naga Bonar dari Medan" itu. Boleh lah semboyan itu dipakai. Cuman ia bakalan malu, si Naga saja menunda kawin gara-gara musti berjuang agar daerahnya tak diambil sama Kompeni, eh ini orang malah pengin asyik sendiri, pacaran (Gak nyambung juga ya? emang ini tulisan ngawur kok, hehehe....).

Kalau cerita yang ini, lha ya beda kontek atuh. Betul, Cinta itu soal hati. Makanya, sah saja jika pria ini terus-terusan jatuh cintrong. Halal malah. Lagi-lagi kerna cinta itu soal hati. Tapi, perempuan yang selalu membayangi tidurnya itu sudah jadi tambatan hati pria lain. Nach kalau udah begini, kalau dipaksain bakalan sakit. Bakalan ada yang tersakiti. Kamu atau dia.

"Makanya bingung, dianya nelpon terus. Dikasih tahu juga kagak bisa ngerti."

Bingung? Ini yang salah ama Lia. Kalau ngakunya udah punya pacar, dan sudah berikrar sehidup semati, trus kenapa musti bingung. Kalau pun kemudian pria itu tak mau mengerti, ya biarkan saja untuk terus hidup dengan cintanya. Lha wong mencintai itu lebih baik daripada membenci. Bukan salah kamu. Yang salah jika kamu kemudian memanfaatkan dia, tidak tegas dan akhirnya seolah-oleh dia mendapatkan peluang untuk menambatkan rasa itu.

"Nggak lah kak, enak aja manfaatin."

Iye, aku juga ngerti. Tak semudah itu bagi kamu untuk meninggalkan cinta yang selama ini udah dibangun sejak dua tahun lalu. Sejak SMA malah. Cuman inget nech, ini soal terori cinta yang kadang-kadang bener. Cinta kamu itu jauh. Ketemu juga nggak mesti sebulan, dua bulan, setahun malah. Cinta biasa itu butuh pengertian, butuh perhatian, butuh sentuhan, butuh bicara (Nelopon kan bisa), butuh guyon (Kan bisa SMS), butuh ditanya, butuh yang lain. Ini semua dalam rangka menjaga cinta agar tetap tumbuh subur hingga kapanpun. Harus? Iya, karena cinta itu soal emoi. Kadang datang dan kadang pergi. Untuk merekatkan agar tidak pergi butuh itu.Maka, cinta yang jauh kalau tak pandai memenej-nya, bisa goncang juga. Kata orang itu namanya Jablai (Jarang dibelai). Makanya, begitu datang perhatian yang berlebih, cinta itu bisa saja beralih.

Untuk cinta luar biasa, hanya butuh trust, pengertian dan keterbukaan. Yah, semoga saja cintamu itu termasuk yang luar biasa. Tak perlu sentuhan, tak perlu ditanya, tak butuh banyak canda. Cukup dengan trust dan pengertian. Percaya, bahwa si cinta, meskipun jauh tapi dia tetap sayang, tetap cinta, tak mendua, dan tetap menjaga hati. Pengertian, kalau dia tak banyak bicara (nelpon) berarti dia sibuk atau tak ada pulsa buat ngobrol. Kalau dia lama nongol di YM, berarti komputernya jebol. Terbuka, terbuka untuk menceritakan apa saja. Dengan begitu, kalian tak akan ada perasaan curiga.Jadi, pertanyaan bingung dan pusing karena ditembak ama pria lain, sudah terjawab. Kalau Lia benar-benar cinta dan tak ingin mendua, anggap saja pria yang datang itu sebagai ujian kesetiaan cinta.

"Tapi pengin dua." Hayah...kalau ini namanya cari penyakit.

Nich aku kasih tips singkatnya buat Lia yang pacaran long distance,
- Jadikan jarak bukan suatu masalah- Kepercayaan di atas segalanya
- Usahakan selalu berkomunikasi
- Isi waktu kesendirian dengan hal bermanfaat
- Selalu kirim foto terbaru, biar rsa kangen itu terobati
- Saling berkunjung, kalau dia gak bisa dateng ya kamu yang dateng. Misal, pas libur kuliah.
- Berantem tak berarti putus! Jarak jauh bukan berarti tanpa berantem, tapi kalau berantem jangan kelamaan.

Tuesday, June 10, 2008

"Cintaku Sederhana Saja............"

TANGAN kananku menggengam kuat pada gas sepeda motor, yang tempo hari baru lunas. Aku sedang bertarung dengan waktu untuk sampai di sebuah rumah kos di komplek Daarut Tauhid, Geger Kalong. Jarak tempuh dari tempat kosku di Jalan Terate, kira-kira 20 menit. Belum lagi kalau jalanan di Setiabudi dimakan habis oleh kendaraan berkaki empat. Tentu genggaman tangan kananku akan melemah, berkompromi dengan keadaan. Jadi, bisa saja aku kalah bertarung dengan waktu.

Senin pagi itu, aku terlambat bangun. Mataku terasa begitu lelah. Malam sebelum Senin, aku piket kantor hingga larut. Tubuhku terkulai, malam membawaku ke alam gelap. Semakin tak sadar karena selimut loreng menutupi tubuhku. Angka di ponselku menunjukkan angka 7.30, usai aku terima telepon dari Zaman."Or jangan lupa datang ya, bawa kameranya. Awas jangan telat," Zaman mengingatkan.

Untung jalanan di Setiabudi tak seramai saat weekend datang, karena pagi itu adalah hari Senin. Aku lebih leluasa mengendalikan si kuda besiku yang nampak terengah-engah. Mungkin karena sudah hampir sebulan ini belum diberi gizi oli Federal. Nanti saja lah, aku harus cepat sampai di Geger Kalong. Zaman menunggu di sana. Hampir jam 8.30 aku sampai di rumah kos, yang sebentar lagi menjadi tempat pesta pernikahan sederhana. Aku menyandarkan sepeda motor, lalu menjabat tangan Zaman yang dingin. Ia mengenakan kemeja koko warna putih dengan sedikit bordiran. Celana panjang warna krem menjadikan Zaman tampak elok.

Belum banyak orang di sana. Baru ada seorang pria berumur duduk di kursi goyang. Sang calon pengantin, Rio Marlina masih berada di dalam kamar. Dia masih berdandan, sebagai persembahan pada sang suami yang paling dikasihi. Tak lama kemudian, ibunda Zaman besama tiga putranya datang membawa bingkisan. Suasana di dalam ruang keluarga, berukuran sekitar 6x7 meter, menjadi lebih hangat. Ada air mineral, puding, dan beberapa jenin jajanan pasar dengan rasa mengundang selera (Pasti, lha aku iki durung sarapan kok. Jadi laper ya?).

Seorang perantara dari Kantor Urusan Agama Geger Kalong, datang. Zaman yang sudah mengenalnya kemudian menyambutnya. Ada kabar penting yang akan disampaikan ke Zaman. "Nanti ijabnya di KUA saja, biar lebih aman. Dekat kok, dari sini lurus terus, belok kiri, masuk ke KPAD," pria itu memberi petunjuk."Iya, kang."
Rencana berubah. Semula acara akad nikah akan berlangsung di rumah kos. Dengan alasan keamanan, prosesi itu dipindahkan ke KUA Geger Kalong. Keluarga Zaman dan keluarga angkat Rio berdiskusi. Tak ada masalah, karena ada beberapa keluarga yang ternyata membawa mobil.

Jarum jam di dinding ruangan itu menunjuk angka 8.50. Sesuai jadwal, akad akan dilakukan pada pukul 9. Tapi, Bang Mukmin yang akan menjadi wali Rio belum kelihatan perut buncitnya. Mungkin ia sedang beradu dengan kemacetan. "Dah sampai mana bang? Gazibu. Oh ya. Ditunggu bang." Zaman nampak gelisah. Tepat jam sembilan mestinya ia sudah mengucapkan, "Aku terima nikahnya Rio......" Obrolan ringan mengalihkan perhatiannya pada sebuah penantian yang hanya tinggal sesaat. Hawa dingin, membuat kami sering ke luar masuk jamban. Kalau dihitung, Zaman udah lebih dari sepuluh kali loh. Dingin, atau dah kagak tahan nech?

Bang Mukmin akhirnya datang dengan mobil warna merah. Kami segera meninggalkan rumah kos menuju KUA Geger Kalong. Aku sudah siap dengan kamera SLR Canon pinjaman wartawan Kompas. Aku tak bisa memberikan sesuatu yang lebih, keculai mengabadikan peristiwa itu dalam bentuk gambar. Semoga menjadi kenangan amat terindah, seumur hidup. Aku mendahului pasangan calon pengantin, Zaman dan Rio. Mataku tajam, mengintip ruang kecil di balik kamera SLR. "Cret....cret....cret." Beberapa peristiwa sudah aku abadikan.

Saatnya menyimak peristiwa penting dalam sejarah kehidupan teman baikku. Zaman duduk sejajar dengan Rio. Zaman mengenakan kemeja koko dan Rio mengenakan gaun pengantin sederhana, wana putih lengkap dengan kerudungnya. Sederhana yang indah dan penuh bunga cinta. Jauh dari gemerlap kemeriahan pernikahan di dalam gedung-gedung di Bandung, yang sering kami singgahi. Jauh dari keramaian pengunjung yang biasanya menjadikan kami harus antri saat perut ini sudah keroncongan. Jauh dari dentuman sura speaker atau pijatan organ tunggal. Tak ada penyanyi dangdut atau tembang sunda di sana. Semua serba sederhana.

Aku terharu. Sebuah pernikahan yang tidak biasa. Aku senang melihatnya. Sebuah pembuktian pertanyaan dalam kepalaku saat pertama kali aku mengenal perempuan dan memacarinya, beberapa tahun silam. Aku menginginkan sebuah pernikahan sederhana dan murah. Bukan sebuah angan. Pernikahan muran itu ada.
"Or, aku mau nikah. Modalnya cuman Rp 3 juta, patungan sama Rio," Zaman bercerita kepadaku seminggu sebelum hari itu.

Aku dan Zaman punya pemikiran sama. Pernikahan agak mahal di dalam gedung dengan gaun pengantin mahal, sangat tidak dilarang. Tapi, menurut kami, bila kami ada uang lebih, akan sangat berguna untuk kelangsungan kehidupan di masa mendatang. "Kan bisa buat nyicil rumah," kami sepakat dengan kalimat itu. Pernikahan sederhana, sesederhana cinta mereka. Mereka menyederhanakan berbagai persoalan besar yang sebenarnya sedang menimpa mereka. Kalau bukan Rio, mungkin sudah masuk Jalan Riau 11 (Aku tak bisa menceritakan begitu banyak penderitaan yang dialami Rio).

Tak banyak yang diminta olehnya pada Zaman. Rio tahu bahwa komitmen cinta Zaman tak harus dibuktikan dengan barang-barang mewah. Cukup dengan kejujuran dan penghormatan atas hak perempuan. Maka, kesetiaan Rio pun tak perlu diminta. Dengan sendirinya, ia sadar bahwa sejak kata Cinta itu terucap adalah saatnya kesetiaan itu diberikan. Sebalinya Zaman. Ia dengan sabar mengatar dan menjemput Rio ke sekolah. Tak banyak yang ia minta dari Rio. Cukup dengan sedikit perhatian dan pertanyaan, "Aa sudah makan, Aa jangan lupa Shalat, Aa jangan kentut sembarangan lagi ya." Sangat sederhana. Namun, nampak indah bukan? Tak seperti cinta kebanyakan, yang saling menuntut. Kejujuran dan pengertian diberikan ketika iangat. Kalau lupa? Caci maki menjadi bumbu yang paling tak sedap.

Aku kembali mengintip kamera SLR. Rio menyimak tausiah pak penghulu. Zaman manggut-manggut. Orang-orang di belakang mereka ikut menyimak. "Horamti orang tua dan jangan pernah tinggalkan shalat," Penghulu kemudian memulai momen penting dalam sebuah pernikahan, akad nikah. Dan akhirnya Zaman menguncapkan "saya terima nikhanya Rio binti......dengan mas kawin 5 gram cincin emas." Aku jadi ingat guyonan aku pada seorang teman perempuan di kantor. Aku penah bilang "mas kawin aku Rp 500 ribu ajah. Mau gak yah?" Dan aku terus-terusan ditertawakan. Dan aku tetap pada guyonanku, "mas kawinku nggak bisa aku naikin, tetep Rp 500 ribu, hehehe....." Itu lah Rio. Dia bukan perempuan matre. Ia ikhlas kok, meski hanya 5 gram emas. Yang penting dari semua prosesi itu adalah kelengkapan syarat nikah. Selanjutnya, berdua di kamar melewatkan malam pertama. Sederhana bukan?

Zaman dan Rio kemudian menunjukan buku nikah dan sertifikat pernikahan. Aku menjepretnya berulang-ulang. Di susul jepretan kamera digital dari teman-teman Zaman. Ibu-ibu yang selama ini merasa menjadi orangtua mereka, ikut menjadi lukisan foto yang nanti aku cetak. Sekitar pukul 11.00, kami sudah berada di rumah kos. Kami melanjutkan dengan makan bersama, dan bercengkerama. Satu jam kemudian rumah kos sudah sepi. Aku menepati janjiku, menjadi wedding photografer handal sehari untuk temaku. Aku mengatur mereka, lalu menjepretntya. Selamat menempuh tantangan baru kawan, aku yakin kalian bisa melewatinya. Aku suka dengan pernikahan sederhana dan cinta sederhana kalian. Dan aku mendambakannya. Cinta sedehana, sepertinya dalam syarinya Katon Bagaskara "Cintaku sederhana saja, milik seorang jejaka hijau merekah ketika saatnya berbunga, manis sealun nada, riangku....."